ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tak Sekadar Mahir, Ini Syarat Penting Aman Berkendara

Rabu, 17 November 2021 | 17:32 WIB
H
FH
Penulis: Herman | Editor: FER
Ilustrasi tiga siklus saat berkendara.
Ilustrasi tiga siklus saat berkendara. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Manajer Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) Johannes Lucky mengungkapkan, untuk menjaga keselamatan saat berkendara, hal yang paling penting adalah kemampuan memprediksi bahaya, bukan sekadar pengoperasian sepeda motor atau penggunaan fitur-fitur keselamatan.

Kecelakaan sendiri disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama, karena faktor manusia mulai dari kemampuan berkendara hingga kondisi fisik dan emosi. Kedua, faktor dari sisi kendaraan, misalnya ada kerusakan fungsi atau modifikasi yang tidak sesuai ketentuan. Ketiga faktor lingkungan sekitar seperti kondisi jalan, cuaca, atau pengendara lain.

"Banyak studi yang menyatakan manusia menjadi faktor utama penyebab kecelakaan. Selain butuh kemampuan berkendara, pengalaman dan sebagainya, ada hal penting yang mesti diperbaiki dari sisi manusia, yaitu sensitivitas terhadap bahaya," kata Lucky dalam acara diskusi media yang digelar AHM secara daring, Rabu (17/11/2021).

Lucky menjelaskan, ketika melihat ada kecelakaan di jalan raya, mungkin saja korban kecelakaan tersebut sudah tahu cara berkendara dan paham rambu-rambu. "Tetapi karena tidak sensitif terhadap bahaya, akhirnya menganggap angin lalu hingga kemudian mengalami kecelakaan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Pada saat berkendara, Lucky mengatakan ada tiga siklus yang terjadi pada manusia. Pertama proses identifikasi kondisi jalan dan lingkungan sekitar. Tahap selanjutnya adalah melakukan pengambilan keputusan langkah yang akan diambil, misalnya menambah atau mengurangi kecepatan, mengerem, dan sebagainya. Tahap berikutnya adalah melaksanakan keputusan tersebut atau pengoperasian.

"Siklus ini terus berputar pada saat kita berkendara. Identifikasi, ambil keputusan, kemudian pengoperasian. Saat edukasi berkendara, selama ini banyak yang hanya fokus di aspek pengoperasian. Padahal kemampuan identifikasi juga perlu ditingkatkan. Justru selama ini kesalahan di fase identifikasi yang lebih banyak terjadi. Kalau identifikasi salah, keputusan yang diambil salah, sehingga pengoperasiannya pun salah," papar Lucky.

Selama proses identifikasi, yang dilakukan pengendara adalah melihat apa saja objek yang ada di sekitarnya. Selain itu, identifikasi juga perlu interpretasi. "Artinya ketika melihat sebuah objek, mereka sudah harus bisa mengartikan kemungkinan-kemungkinannya, misalkan kenapa ada kendaraan yang memperlambat lajunya, ada angkot yang berhenti, atau hal-hal lain. Dari objek-objek ini kemudian ditafsirkan, ini artinya apa," ujarnya.

Ketika pengendara memiliki sensitivitas yang tinggi, mereka akan lebih tanggap terhadap ancaman bahaya. Misalnya dari identifikasi objek di sekitarnya diprediksi ada pejalan kaki yang menyebrang, mereka akan mengurangi kecepatan dan menjaga jarak dengan kendaraan di depan. Pengoperasian rem juga berdasarkan prediksi bahaya.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki sensitivitas rendah akan lebih dekat dengan bahaya. Pengereman dilakukan mendadak atau berhenti sebelum menabrak pejalan kaki karena pengoperasian rem baru dilakukan setelah mendeteksi bahaya.

"Dari dua pendekatan ini, orang yang nyaris menabrak ini mengoperasikan rem ketika mendeteksi bahaya, artinya sudah melihat ada bahaya baru dia ngerem. Sedangkan yang punya sensitivitas tinggi mengoperasikan rem berdasarkan prediksi. Meskipun belum pasti terjadi, dia mengoperasikan remnya untuk menghindari kemungkinan terlibat di kecelakaan. Sensitivitas yang tinggi inilah yang perlu terus kita tingkatkan," ujar Lucky.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon