ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Maggot, Solusi Rudi Atasi Sampah Pasar di Kota Tangerang

Selasa, 21 Oktober 2025 | 17:19 WIB
W
BW
Penulis: Wahroni | Editor: BW
Rudi Hendra manfaatkan maggot untuk mengolah 3 ton sampah per hari di Pasar Saraswati, Tangerang.
Rudi Hendra manfaatkan maggot untuk mengolah 3 ton sampah per hari di Pasar Saraswati, Tangerang. (Beritasatu.com/Wahroni)

Tangerang, Beritasatu.com – Rudi Hendra Priyatno (63), pengelola Pasar Saraswati Ciledug, Kota Tangerang, berhasil mengatasi permasalahan sampah dengan cara yang tak biasa, yaitu menggunakan maggot.

Masalah sampah di berbagai daerah, baik kota besar maupun pedesaan, masih menjadi tantangan serius. Banyak pihak, termasuk pemerintah, terus mencari solusi efektif dan ramah lingkungan untuk menekan volume sampah yang terus meningkat.

Salah satu metode yang mulai menarik perhatian adalah pemanfaatan maggot (larva lalat Black Soldier Fly) untuk mengurai sampah organik. Rudi, bersama timnya, menjadi pelopor metode ini di lingkungan pasar.

“Selama ini sampah menjadi masalah besar, termasuk di TPA Rawa Kucing Tangerang. Kami berpikir, bagaimana jika kami bisa ikut meringankan beban sampah ini,” ungkap Rudi.

ADVERTISEMENT

Awalnya, Rudi dan timnya ragu terhadap efektivitas maggot. Namun, hasil riset membuktikan bahwa maggot sangat efisien dalam mengurai sampah organik seperti sisa buah dan sayur.

“Maggot ini seperti mesin pengurai alami. Mereka bisa memakan apa saja, bahkan sampah lama pun dihabiskan,” jelas Rudi.

Dengan peralatan sederhana, tim mulai bereksperimen di lingkungan Pasar Saraswati. Meskipun belum menggunakan teknologi canggih, hasilnya cukup signifikan.

Dalam dua bulan, volume sampah yang berhasil diolah terus meningkat. Rudi menyebutkan, awalnya hanya 2 ton per hari, kini bisa mencapai 3 ton per hari.

“Pertumbuhan maggot sangat cepat. Kami optimistis bisa mengelola lebih banyak sampah ke depannya,” ujarnya.

Sampah yang telah diurai oleh maggot kemudian diolah menjadi pupuk kompos atau media tanam. Uniknya, hasil olahan ini dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat.

“Kami terapkan konsep sedekah. Siapa pun boleh mengambil hasil pengolahan ini,” tambahnya.

Metode ini tak hanya berdampak positif pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Banyak warga mulai tertarik membudidayakan maggot untuk pakan ikan atau umpan memancing.

“Maggot bisa menjadi tambahan penghasilan. Sudah ada yang menggunakannya untuk bisnis kecil,” kata Rudi.
Ke depan, Rudi berharap bisa meningkatkan kapasitas produksi dengan alat yang lebih modern seperti mesin pencacah, saringan, dan blender untuk membuat pelet berkualitas tinggi.

Rudi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah keterbatasan alat dan tenaga kerja terlatih. “Kami butuh SDM yang memahami cara mengelola maggot dengan baik, serta peralatan untuk mempercepat proses,” tuturnya.

Meski begitu, Rudi optimistis bahwa metode ini bisa diadopsi lebih luas. “Kalau lebih banyak orang mau mencoba, dampaknya akan luar biasa bagi lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dari Sampah MBG Jadi Cuan, Siswa MTsN Semarang Panen Maggot

Dari Sampah MBG Jadi Cuan, Siswa MTsN Semarang Panen Maggot

SPORT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon