ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Apindo Ungkap Alasan Sejumlah Pabrik Sepatu Hengkang dari Tangerang

Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:49 WIB
WK
DM
Penulis: Wawan Kurniawan | Editor: DM
Suasana Karyawan PT pabrik sepatu PT Victory Chingluh Indonesia di Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten.
Suasana Karyawan PT pabrik sepatu PT Victory Chingluh Indonesia di Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten. (Beritasatu.com/Wawan Kurniawan)

Tangerang, Beritasatu.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan alasan hengkangnya sejumlah pabrik sepatu dari wilayah Tangerang tidak semata karena tingginya upah minimum, tetapi juga akibat menurunnya kondusivitas iklim usaha di daerah tersebut.

Ketua Apindo Kabupaten Tangerang Herry Rumawatine mengatakan, kabar rencana kepindahan pabrik sepatu PT Victory Chingluh Indonesia, produsen sepatu merek Nike, sudah terdengar sejak lama. Perusahaan tersebut kini tengah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara bertahap dan berencana memindahkan operasinya ke Pekalongan, Jawa Tengah.

“Ada alasan lain yang kita alami di Tangerang ini. Banyak biaya-biaya yang tak terduga, yang cukup tinggi. Terhadap lingkungan khususnya, termasuk ormas, pasti itu lah,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).

ADVERTISEMENT

Menurut Herry, pemerintah daerah belum mampu menjamin iklim industri yang kondusif. Selain biaya tambahan yang tidak jelas aturan dasarnya, pengusaha juga kerap mendapat tekanan sosial dari lingkungan sekitar untuk mempekerjakan warga setempat.

“Sebagian besar sumber daya itu tidak memenuhi kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan tetapi dipaksakan. Ini problem juga buat perusahaan,” jelasnya.

Herry menambahkan, tingginya upah minimum di Tangerang juga menjadi pertimbangan kuat bagi perusahaan untuk pindah ke daerah dengan biaya produksi lebih rendah, seperti Jawa Tengah. “Produk sama, upahnya lebih rendah. Jadi mereka pindah lah. Ini pelajaran juga buat Kabupaten Tangerang,” ujarnya.

Sebelumnya, PT Victory Chingluh Indonesia dikabarkan melakukan PHK massal terhadap sekitar 3.000 karyawan dari 15.000 pekerja. Sekretaris Jenderal Konfederasi KASBI Andi Kristiantono membenarkan hal tersebut dan menyebut penurunan pesanan produksi menjadi alasan utama.

“Order saat ini tidak cukup untuk menghidupi jumlah pekerja yang mencapai sekitar 15.000 orang,” kata Andi, Kamis (30/10/2025).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon