Petani Timun Suri Lebak Raup Jutaan Rupiah meski Produksi Turun
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:56 WIB
Lebak, Beritasatu.com - Datangnya bulan suci Ramadan selalu menjadi momen yang dinantikan para petani timun suri di Kabupaten Lebak, Banten. Buah musiman yang identik sebagai menu berbuka puasa itu mulai dipanen dan banyak diburu pedagang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Saat ditemui Beritasatu.com pada Sabtu (21/2/2026) di Kampung Cikabayan, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Sarif (64) tampak sibuk memetik timun suri di kebunnya. Setiap menjelang Ramadan, ia rutin menanam buah yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “bonteng puan”.
Sarif mengatakan, selama Ramadan dirinya dapat memanen setiap hari dengan hasil berkisar 1,5 hingga 2 kuintal per hari, tergantung kondisi tanaman.
"Setiap musim puasa sebulan penuh itu minimal ambil bonteng setiap hari. Sehari bisa satu setengah sampai dua kuintal," ujar Sarif saat ditemui di kebunnya.
Ia menuturkan, hampir separuh warga di kampungnya turut menanam timun suri untuk memanfaatkan tingginya permintaan saat Ramadan. Persiapan tanam biasanya dilakukan dua hingga tiga bulan sebelum bulan puasa tiba.
"Kalau di kampung ini hampir separuh warga nanam. Biasanya dua atau tiga bulan sebelum puasa sudah siap tanam," katanya.
Dari sisi pemasaran, Sarif mengaku tidak mengalami kesulitan. Para pengepul datang langsung ke kebun untuk membeli hasil panen. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung menggunakan sepeda motor maupun mobil.
"Ada yang pakai motor, ada juga yang pakai mobil. Mereka keliling ke setiap kampung untuk mengambil hasil panen dari petani seperti saya. Jadi kami tidak perlu repot membawa hasil panen ke pasar," ujarnya.
Penjualan dilakukan dengan dua sistem, yakni per buah maupun per kilogram, tergantung permintaan pembeli. Harga per buah berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 20.000, disesuaikan dengan ukuran timun suri.
"Kadang ada yang beli hitung biji, kadang kiloan. Kalau per buah bisa Rp 10.000 sampai Rp 20.000 tergantung besar kecilnya," jelasnya.
Meski permintaan meningkat selama Ramadan, Sarif mengungkapkan produksi tahun ini menurun dibandingkan musim sebelumnya. Curah hujan yang tinggi saat masa tanam menyebabkan banyak tanaman membusuk dan gagal berkembang.
"Waktu tanam itu hujannya banyak sekali. Pohon masih kecil sudah kena hujan terus, jadi banyak yang busuk. Buah pertama kurang menghasilkan," ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, pendapatannya diperkirakan turun. Jika pada musim sebelumnya ia mampu meraih Rp 5 juta hingga Rp 8 juta selama Ramadan, tahun ini ia memperkirakan penghasilan hanya sekitar Rp 3 juta.
"Kalau tahun-tahun bagus bisa sampai tujuh atau Rp 8 juta. Sekarang mungkin Rp 3 juta saja, karena banyak yang gagal akibat hujan," pungkasnya.
Meski hasil panen menurun, Sarif tetap bersyukur timun suri masih menjadi komoditas andalan saat Ramadan. Ia berharap cuaca ke depan lebih bersahabat agar produksi kembali meningkat dan memberikan keuntungan lebih baik bagi para petani di Lebak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




