Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Persen
Selasa, 11 November 2025 | 13:50 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Meski diklaim masih relatif stabil karena laju pertumbuhannya terjaga pada level 5% di tengah gejolak global, tetapi pemerintah wajib bekerja keras untuk mencapai target tahunan 5,2%. Perlu ada kebijakan ekspansif, terutama melalui percepatan belanja pemerintah pada sektor-sektor produktif yang memiliki efek ganda untuk meningkatkan konsumsi dan investasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tumbuh sebesar 5,04% secara year on year (yoy) dengan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai mencapai Rp 6.060 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.444 triliun.
“Pertumbuhan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan III tahun 2024 yang tumbuh sebesar 4,95%,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Hanya saja, pertumbuhan ekonomi 5,04% pada kuartal III 2025 jelas menurun dibandingkan capaian pada triwulan II 2025 yang tumbuh sebesar 5,12%. Kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelontorkan likuiditas Rp 200 triliun ke bank Himbara belum signifikan meningkatkan laju pertumbuhan, meski berhasil menumbuhkan optimisme.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi secara quarter to quarter (q to q) karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar terhadap PDB malah pertumbuhannya menurun menjadi 4,89% pada triwulan III 2025 dibandingkan triwulan sebelumnya 4,97%. Permintaan ekspor juga tersendat akibat ekonomi global belum stabil.
BPS menyebutkan konsumsi rumah tangga pada kuartal III tumbuh 4,89% secara yoy didorong oleh peningkatan transportasi dan komunikasi, serta restoran dan hotel yang sejalan dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan aktivitas wisatawan domestik.
Dari sisi produksi atau lapangan usaha, industri pengolahan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi triwulan III dengan andil 1,13%. Kontribusi industri pengolahan terhadap total PDB mencapai 19,15%. Selain itu, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, yang apabila ditotal bersama industri pengolahan menyumbang 65,02% dari PDB.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III secara angka statistik lebih baik dibandingkan negara lain di Asia. Misalnya, China tumbuh 4,8%, Singapura 2,9%, dan Korea Selatan 1,7%. Namun, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di bawah Malaysia yang tumbuh 5,2% secara yoy dan Vietnam yang mencapai 8,2%.
Purbaya mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,04% pada kuartal III 2025 menunjukkan APBN sudah dikelola secara efektif. Hal ini tak lepas dari koordinasi erat antara otoritas moneter dengan sektor keuangan. Dia juga menyinggung dampak penyebaran Rp 200 triliun ke Himbara yang menurutnya turut mendorong pertumbuhan.
“APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kinerja dunia usaha agar lebih berdaya saing terutama di tingkat global. Dukungan fiskal juga diberikan melalui penempatan Rp 200 triliun kas negara secara prudent untuk memastikan likuiditas ekonomi memadai, termasuk dukungan non-fiskal untuk debottlenecking demi realisasi investasi lebih tinggi secara berkelanjutan,” kata Purbaya, Kamis (6/11/2025).
Momentum pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, berdampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja sebesar 1,9 juta orang. Jumlah pengangguran turun 4.000 orang menjadi 7,46 juta dibandingkan pada Agustus 2024. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) sudah turun menjadi 4,85% pada Agustus 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,91%.
Purbaya menyebutkan pemerintah terus berupaya menjaga daya beli dan mendukung kinerja dunia usaha dengan optimalisasi belanja melalui program stimulus Rp 34,2 triliun dan delapan program akselerasi senilai Rp 15,7 triliun pada triwulan IV 2025.
Investasi dan ekspor bernilai tambah tinggi diperkuat melalui peran Danantara dalam mengungkit kontribusi swasta, serta debottlenecking dengan dibentuknya Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP). Dengan perkembangan data terkini, ditambah upaya optimalisasi peran fiskal sebagai enabler aktivitas ekonomi dan kebijakan nonfiskal untuk iklim usaha lebih baik, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,2% pada 2025 akan tercapai.
“Ke depan, pemerintah terus mendorong agar mesin pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat. Kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan iklim investasi yang sehat akan terus disinergikan untuk menciptakan pertumbuhan tinggi. Tidak hanya tinggi, tetapi juga stabil dan dapat menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” ujar Purbaya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan sebesar 5,04% menandakan kinerja ekonomi sudah lebih baik karena tetap terjaga tumbuh pada level 5%.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut, pada kuartal IV 2025, pemerintah sudah menyiapkan stimulus tambahan hampir Rp 30 triliun melalui bantuan langsung tunai (BLT). Kemudian memperluas penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) dengan senilai Rp 50 triliun.
Airlangga menyebut sampai pekan lalu, ada sekitar 800.000 debitur KUR yang sudah menuntaskan tanda tangan akad kredit. “Kalau semuanya jalan, sektor ini akan bergerak,” tuturnya.
Dengan kombinasi stimulus fiskal serta dorongan kredit produktif, pemerintah yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,2% hingga akhir tahun.
“On track, kita optimistis kuartal IV bisa naik,” kata Airlangga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




