Festival Imlek Nasional 2026 Targetkan 10.000 Pengunjung
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:18 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Festival Imlek Nasional 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menargetkan 10.000 pengunjung selama 10 hari penyelenggaraan. Acara ini menjadi momentum merawat budaya sekaligus memperkuat persatuan bangsa Indonesia.
Festival bertajuk "Harmoni Imlek Nusantara" digelar mulai Minggu (22/2/2026) hingga Selasa (3/3/2026). Menariknya, ini merupakan perayaan Imlek nasional pertama di Indonesia, beriringan dengan bulan suci Ramadan. Festival diharapkan menjadi ruang temu lintas budaya dan lintas agama.
Ketua umum panitia Imlek nasional sekaligus Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, optimistis jumlah pengunjung bisa melampaui target 10.000 orang, mengingat antusiasme masyarakat dan lokasi acara yang dekat dengan Masjid Istiqlal.
“Saya sih targetnya tinggi, cuma kalau sebutin di sini kira-kira 5.000 sampai 10.000 orang. Tapi saya cukup yakin akan di atas itu karena dari tarawih saja limpah ke sini pasti lebih banyak,” kata Irene di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2026).
Tema "Harmoni Imlek Nusantara" diusung untuk menampilkan keharmonisan dan keberagaman Indonesia di tengah momentum Ramadan.
Festival terbuka untuk masyarakat luas, menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari museum terbuka, pertunjukan seni budaya, hingga tenan kuliner dan UMKM. Salah satu daya tarik utama adalah museum terbuka yang menampilkan akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia.
Pengunjung juga dapat menikmati festival UMKM makanan dan minuman, panggung pertunjukan, wahana bermain anak, serta pemutaran film Indonesia.
Festival ini juga terintegrasi dengan program pemerintah, seperti cek kesehatan gratis, donor darah, hingga layanan kebugaran. Beberapa produksi film lokal, seperti Jumbo, Na Willa, dan Pelangi di Mars, diputar sebagai bagian penguatan ekosistem ekonomi kreatif.
Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menilai penyelenggaraan Imlek Nasional di bulan Ramadan justru memperkuat nilai kebersamaan dan persatuan.
“Perbedaan itu justru kekuatan kita. Kekuatannya di situ. Jangan dijadikan kelemahan, jadikan kekuatan,” kata menteri yang akrab disapa Ara.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menekankan, Imlek nasional menjadi simbol akulturasi nyata di masyarakat Indonesia. Ia menyoroti bagaimana unsur budaya Tionghoa telah lama menyatu, termasuk melalui kuliner.
“Pempek itu sebetulnya adalah akulturasi dari kebudayaan dari Cina dengan di Indonesia. Pada masa itu kalau produk ikan itu berlebih, lalu kemudian dari teman-teman yang keturunan Tionghoa ini mengolahnya menjadi pempek,” kata Qodari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




