Jakarta dan Semarang Terancam Tenggelam, AHY: Giant Sea Wall Mendesak
Senin, 4 Mei 2026 | 19:31 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan Jakarta dan Semarang menghadapi ancaman serius tenggelam.
Hal ini akibat kombinasi penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut (rising sea level) di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.
AHY menyampaikan kondisi tersebut membuat pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa menjadi semakin mendesak. Hal itu disampaikannya dalam Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, laju penurunan muka tanah di kawasan Pantura berkisar antara 1 hingga 20 sentimeter per tahun, dengan dampak paling parah terjadi di Jakarta dan Semarang. Situasi ini diperburuk oleh kenaikan muka air laut akibat pemanasan global yang mencapai 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun.
“Saya ingin menyampaikan bahwa setiap saat, seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden tadi dalam pidato beliau, bahwa telah terjadi penurunan permukaan tanah, ini 1 hingga 20 cm setahun. Paling buruk terjadi di Jakarta dan juga di Semarang,” ungkap Menteri Koordinator AHY di kantor KKP, Jakarta, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan twin pressure atau tekanan ganda yang sangat mengkhawatirkan bagi wilayah pesisir utara Jawa. Tanpa intervensi segera, banjir rob akan terus mengancam dan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
AHY menambahkan, dampak yang ditimbulkan tidak hanya merusak properti dan permukiman warga, tetapi juga berpotensi memicu bencana yang lebih besar di masa mendatang. Proyeksi hingga 2050 menunjukkan genangan air laut akan semakin meluas jika tidak ada langkah penanganan serius.
“Ini juga mengakibatkan terus mengintainya banjir rob yang bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah warga, dan berpotensi pada kejadian bencana yang lebih buruk dan fatal,” tegasnya.
Selain ancaman banjir rob, masyarakat pesisir juga menghadapi risiko gelombang pasang ekstrem hingga krisis air bersih. AHY menilai persoalan ini harus segera ditangani karena dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia mengungkapkan, kawasan Pantura memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, yakni sekitar 27,53% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara US$ 368,37 miliar (sekitar Rp 6.396 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.365 per dolar AS). Oleh karena itu, upaya perlindungan wilayah ini menjadi sangat krusial.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




