ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ketua AAUI Sebut Profitabilitas Asuransi Umum Tidak Sehat

Kamis, 16 Maret 2023 | 21:55 WIB
PA
FH
Penulis: Prisma Ardianto | Editor: FER
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Periode 2023-2026 Budi Herawan ditemui usai Kongres ke-VII AAUI, di Maipark Ballroom, Pusat Pengembangan SDM Asuransi, Jakarta, Kamis, 16 Maret 2023.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Periode 2023-2026 Budi Herawan ditemui usai Kongres ke-VII AAUI, di Maipark Ballroom, Pusat Pengembangan SDM Asuransi, Jakarta, Kamis, 16 Maret 2023. (B-Universe Photo/Prisma Ardianto)

Jakarta, Beritasatu.com - Profitabilitas industri asuransi umum dinilai tidak sehat. Laba bersih perusahaan asuransi umum dalam beberapa tahun belakangan, dinilai lebih banyak ditopang perolehan hasil investasi dan bukan hasil underwriting.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menyampaikan, perolehan premi yang dicatatkan perusahaan asuransi umum dan reasuransi sejatinya tidak cukup untuk menanggung risiko di masa mendatang. Memang hal tersebut tidak terjadi di semua lini bisnis, namun perlu menjadi perhatian serius bagi masing-masing pemain di industri.

"Akhirnya tidak sehat. Mungkin 70-80% laba asuransi umum itu di-generate dari hasil investasi. Seyogyanya dari hasil underwriting. Tapi karena biaya akuisisinya cukup besar, maka hasil investasi yang mendongkrak laba. Nah ini sudah tidak sehat," ungkap Budi saat ditemui di Jakarta, Kamis (16/3/2023).

ADVERTISEMENT

Menurut Budi, jika pembiaran terus terjadi bukan tidak mungkin industri akan semakin menderita. Oleh karena itu, perlu keterlibatan semua pihak untuk membenahi industri ini, termasuk peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam meramu regulasi yang adil namun tetap berorientasi pada industri yang sehat dan berkelanjutan.

"Regulasi bisa berkaitan dengan retensi sendiri, itu sudah pasti. Kemudian menyangkut tarif juga sudah enam tahun tidak pernah di-review. Lalu biaya akuisisi juga, mungkin kemarin karena kesibukan, tapi ini juga menjadi skala prioritas," ungkap Budi

Bahkan, tarif dan biaya akuisisi beberapa lini bisnis seperti asuransi properti dan kendaraan bermotor dibahas langsung di dalam ketentuan OJK. Ke depan, kue besar kendaraan listrik juga perlu disambut untuk asuransi umum.

"Alih-alih boncos, segala potensi yang ada diharapkan berbalik menjadi keuntungan bersama, khususnya bagi industri asuransi umum dan reasuransi. Agar semua pemain di asuransi umum ini kebagian kuenya, agar juga preminya cukup, karena ini belum diatur," imbuhnya.

Budi menambahkan, tidak sehatnya aspek profitabilitas di asuransi umum dan reasuransi dapat menimbulkan aspek berkelanjutan, dimana pertumbuhan industri itu sendiri berpotensi terhambat.

Imbasnya, ekuitas perusahaan asuransi hanya akan bergerak melandai, padahal risiko yang dihadapi di masa depan ke depan semakin tinggi.

Mengacu statistik OJK, pendapatan underwriting asuransi umum memang tumbuh 11,48% secara year on year (yoy) menjadi Rp 42,29 triliun pada tahun 2022. Hal ini didorong jumlah pendapatan premi yang naik sampai dengan 16,63% (yoy) menjadi Rp 89,66 triliun.

Sementara itu, beban underwriting merangsek 16,53% (yoy) menjadi Rp 25,02 triliun di akhir 2022. Bagian dari meningkatnya klaim bruto sebesar 26,03% (yoy) menjadi Rp 40,78 triliun. Akhirnya, hasil underwriting hanya tumbuh tipis yakni 4,89% (yoy) menjadi Rp 17,27 triliun.

Adapun hasil investasi dibukukan meningkat sampai 15,95% (yoy) menjadi Rp 4,68 triliun. Namun dengan beban usaha yang mencapai Rp 14,53 triliun atau tumbuh 10,61% (yoy), laba bersih asuransi umum tertahan untuk tumbuh lebih cepat atau hanya 10,29% (yoy) menjadi Rp 6,81 triliun.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon