Bangun Pabrik, Cemindo Gemilang Dapat Sindikasi Pinjaman Rp 5,3 T
Rabu, 18 September 2013 | 19:44 WIB
Jakarta – Sebanyak tiga bank menyalurkan kredit sindikasi sebesar Rp 5,27 triliun untuk pembangunan pabrik semen PT Cemindo Gemilang.
Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), dan Bangkok Bank Plc Cabang Jakarta, bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)
Dalam sindikasi tersebut, BNI dan BRI memberikan porsi yang sama, yaitu masing-masing mengucurkan Rp 1,92 triliun. Kemudian Bangkok Bank menyalurkan Rp 958,6 miliar dan LPEI (Indonesia Eximbank) mengucurkan Rp 479,3 miliar.
BNI bertindak sebagai Mandated Lead Arranger, Book Runner, Creditor, Facility and Security Agents. Kemudian BRI sebagai Mandated Lead Arranger and Creditor dan Bangkok Bank sebagai Co-Lead Arranger dan Creditor. Sedangkan LPEI menjadi Arranger and Creditor.
"Ini untuk pembangunan pabrik semen milik Cemindo Gemilang di Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Pembiayaan ini juga untuk membangun dua grinding plant yang terletak di Ciwandan dan Balikpapan, Kalimantan Timur," kata Direktur Business Banking BNI Krishna Suparto dalam jumpa pers penandatanganan kerja sama di Jakarta, Rabu (18/9).
Krishna mengatakan, pembiayaan tersebut merupakan salah satu realisasi dari fokus business banking BNI untuk membiayai infrastruktur. Langkah itu dilakukan melalui penguatan kolaborasi dengan lembaga pembiayaan lain, terutama sesama Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut Krishna, pemanfaatan bahan bakar untuk pabrik tersebut sangat efisien, sehingga proyek pabrik penghasil Semen Merah Putih tersebut masuk kategori green.
"Emisinya sangat ditekan, jadi tidak merusak lingkungan sekitar," kata dia.
Presiden Direktur Cemindo Gemilang Aan Selamat mengatakan, pihaknya merupakan produsen semen yang relatif baru dan selama 10 tahun diberikan hak mengelola Semen Kupang. Sebulannya, Semen Kupang menghasilkan 30 ribu ton semen.
Perseroan awalnya memulai bisnis dengan mengimpor semen dari pabrik yang ada di Vietnam, yaitu Chinfon Cement, yang masih dilakukan sampai kini. Dia menegaskan, teknologi alat yang digunakan pihaknya berbasis standar Eropa yang ramah lingkungan.
"Kami sudah menggunakan bahan bakar alternatif seperti gabah untuk mengurangi pemakaian batubara," ujar Aan.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, pembangunan di Bayah membutuhkan total investasi yang mencapai US$ 600 juta. Dana tersebut termasuk pembangunan pabrik, pelabuhan, jaringan conveyor, dan saluran tegangan tinggi dari Pelabuhan Ratu hingga lokasi pabrik.
"Kami harap pertengahan 2014 sudah selesai, tapi kami harap juga bisa lebih cepat dari itu. Kalau dua grinding plant akan selesai pada akhir 2013," ujar dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




