ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Paksa Perbankan Pangkas Bunga Kredit

Jumat, 11 November 2011 | 14:14 WIB
DB
B
Penulis: Dion Bisara/WBP | Editor: B1

Apabila BI menolak RBB suatu bank, bank tersebut harus merevisinya sampai diterima.

Bank Indonesia (BI) akan memberi warning (peringatan) kepada perbankan nasional yang tidak menurunkan suku bunga kreditnya menyusul langkah otoritas moneter tersebut memangkas suku bunga acuan (BI rate) sebesar 50 basis poin (bsp) jadi 6 persen.

BI bisa saja menolak rencana bisnis perbankan (RBB) pada 2012 jika tidak melakukan hal tersebut.

"Nanti kita cermati rencana bisnis masing-masing bank," kata Gubernur BI, Darmin Nasution kepada wartawan di kantornya, Jakarta, hari ini.

Darmin mengatakan, salah satu alasan bank sentral memotong BI rate secara drastis kemarin dimaksudkan agar perbankan nasional bisa memasukkan faktor turunnya BI rate dalam rencana bisnis bank (RBB) yang sedang disusun bulan November-Desember ini.

BI akan mengamati sekaligus melakukan evaluasi, terutama bank-bank besar. Tidak menutup kemungkinan, bank sentral Indonesia ini akan memanggil manajemen kalau tidak memasukkan faktor penurunan BI rate ini. "Saya tidak bilang kita akan memaksa. Namun di akhir bulan Januari nanti RBB-nya bisa kita terima atau kita tolak," lanjut Darmin.

RBB adalah dasar bagi bank-bank untuk menjalankan bisnisnya di tahun berjalan. Rencana tersebut harus disetujui oleh bank sentral karena terkait stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Apabila BI menolak RBB suatu bank, bank tersebut harus merevisinya sampai diterima BI.    

"Memang jangan berharap begitu turun policy rate kita, besok langsung turun lending rate-nya. Kita berurusan dengan organisasi yang besar. Namun kita akan tetap dorong," kata Darmin.

Darmin berharap, penurunan bunga kredit perbankan akan menolong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ancaman pelambatan ekonomi global.

Dia menambahkan, pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini menunjukkan tren positif di mana kredit produktif tumbuh jauh lebih tinggi dari kredit konsumsi.

Per September 2011, kredit modal kerja tumbuh 24 persen dan kredit investasi 31 persen, sementara kredit konsumsi tumbuh 23,8 persen.
"Ini bagus karena pertumbuhan kredit konsumsi lebih lambat," tutup Darmin.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

MULTIMEDIA
Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

NASIONAL
BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

EKONOMI
BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon