Pembangunan Pabrik Semen Rembang Masuki Tahap Pembangunan Pondasi
Minggu, 30 November 2014 | 20:33 WIB
Rembang - Proyek pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di kota Rembang memasuki tahap pembuatan pondasi. Pembangunan pabrik Rembang, memiliki teknologi lebih moderen dibanding pabrik serupa di Tuban.
"Progres pembangunan saat ini mencapai 10,29 persen, melampaui target semula 9,8 persen," ujar Kepala Proyek Rembang, Heru Indra Wijayanto, di Rembang, Sabtu (29/11).
Menurut Heru, pabrik ini dirancang meminimalisir konsumsi energi, dan air, serta memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) di area sekitar. Selain itu, pabrik ini juga menerapkan konsep green industry dengan meningkatkan konsumsi energi alternatif dari limbah pertanian, menekan konsumsi air dan listrik, kontrol emisi ketat dan tetap melestarikan keanekaragaman hayati.
Dalam upaya pencegahan pencemaran lingkungan, pabrik dengan kapasitas tiga juta ton per tahun itu melengkapi diri dengan berbagai peralatan canggih, berupa mesin penyedot debu, seperti electrostatic precipitator, cylone conditioning tower serta bag house filter.
"Seluruh proses pembangunan pabrik dilakukan oleh tenaga ahli dari internal Semen Indonesia, tanpa tenaga ahli asing," tegas Heru.
Heru mengakui, tantangan terbesar dalam pembangunan proyek adalah adanya isu lingkungan terutama isu sumber air. "Tantangan sosialnya sangat besar. Namun, berbagai tantangan itu kami hadapi dengan baik dan bijaksana. Dalam industri, dampak negatif tak mungkin dihilangkan, namun harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Dampak positif harus diperbesar," paparnya.
"Kami telah membuktikan, pembangunan pabrik semen di Tuban yang telah lebih dari 20 tahun, nyatanya memberi dampak positif bagi warga. Kekhawatiran soal merusak sumber air, justru tak terjadi. Yang terbukti, bekas lahan proyek malah menjadi embung besar yang menjadi sumber air bagi pertanian warga," ujarnya.
Pihaknya juga memberdayakan masyarakat sekitar pabrik, dengan merekrut pemuda yang berada di Ring I sebagai tenaga sekuriti. Memberikan pendidikan Kejar Paket kepada warga setempat yang putus sekolah. Pihaknya juga menggandeng para kontraktor di Rembang untuk ikut menggarap proyek tersebut.
Kendati demikian, berbagai upaya itu masih belum diterima semua warga. Karena masih ada yang menolak. Dari data dan survei yang dilakukan, kata Heru, dari lima desa yang berada dalam Ring I, tercatat tiga desa menyatakan mendukung penuh pembangunan pabrik semen.
Dua lainnya, yakni Desa Tegaldowo dan Timbrangan masih belum seluruhnya mendukung. Di Tegaldowo, dari 1.525 KK, sebanyak 150 KK masih menolak, sedangkan di Timbrangan sebanyak 45 KK dari 1.250 KK di desa itu masih menolak. Jarak proyek dengan desa terdekat adalah 4 km.
Selain melayani gugatan hukum sekelompok warga dan Walhi yang kasusnya masih disidangkan di PTUN Semarang, pihak Semen Indonesia juga terus melakukan pendekatan kepada tokoh ulama setempat. Salah satunya, pendekatan kepada KH Maemun Zubaer, yang akrab disapa Mbah Maemun.
"Bahkan restu mbah Maemun sudah kami dapat, karena saat ground breaking, Mbah Maemun lah yang menentukan tanggal untuk pelaksanaannya," tambah dia.
Heru optimistis, dengan berbagai pendekatan kepada warga, tokoh ulama, pemda dan muspida setempat, pembangunan pabrik dapat berjalan sesuai rencana, sehingga dapat beroperasi pada 2016 mendatang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




