Harga Emas Merosot di Bawah US$ 2.000 karena Kuatnya Data Pekerjaan AS
Sabtu, 9 Desember 2023 | 06:31 WIB
Chicago, Beritasatu.com - Harga emas merosot di bawah US$ 2.000 per ons pada Jumat (8/12/2023) karena penguatan dolar dan imbal hasil Treasury AS setelah para investor memproyeksi penurunan suku bunga AS sulit terwujud pada Maret 2024 menyusul data pekerjaan AS lebih kuat dari perkiraan.
Harga emas turun 1,3% menjadi US$ 2.002 per ons setelah sempat mencapai level terendah harian di US$ 1.994. Sepanjang minggu ini, harga emas turun 3,4% atau pekan terburuk dalam 10 minggu terakhir. Sementara harga emas berjangka AS melemah 1,3% pada US$ 2.019.
Pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat pada November dan tingkat pengangguran turun menjadi 3,7% yang menandakan kekuatan pasar tenaga kerja. Para trader memproyeksi bahwa Federal Reserve (The Fed) memerlukan waktu hingga Mei untuk memangkas suku bunga.
“Emas merosot karena laporan ketenagakerjaan AS,” kata Tai Wong, trader logam independen yang berbasis di New York dikutip CNBC International.
Sementara indeks dolar menguat 0,7% pada minggu ini, membuat emas lebih mahal bagi pembeli luar AS. Adapun imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun rebound (menguat) dari posisi terendah 3 bulan.
Para trader menunggu proyeksi suku bunga terkini untuk 2024 dari pertemuan kebijakan Fed pada 12-13 Desember.
Sementara dealer emas fisik di India memberi diskon besar ke level tertinggi dalam 7 bulan pada minggu ini untuk memikat pelanggan.
Adapun harga perak kehilangan 3,4% menjadi US$ 22,98 per ons, menuju minggu terburuk sejak Oktober 2022. Platinum naik 0,9% menjadi US$ 915,25, dan paladium turun 2,4% menjadi US$ 946,97.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




