Negara Berkembang Paling Rasakan Dampak Tekanan Perekonomian Global
Senin, 2 September 2024 | 10:20 WIB
Badung, Beritasatu.com - Perekonomian dunia masih dibayangi dengan sejumlah gejolak, yaitu perlambatan ekonomi, tingkat pengangguran, dan inflasi yang belum membaik. Tantangan perekonomian tersebut memberikan dampak paling besar terhadap negara berkembang.
Presiden Joko Widodo mengatakan, dengan sejumlah tantangan tersebut, maka akan memengaruhi ikhtiar untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) atau sustainable development goals (SDGs). Dia mengatakan, saat ini tinggal tersisa enam tahun menuju 2030, sedangkan target SDGs baru tercapai 17%.
“Oleh sebab itu kita memerlukan arah dan visi baru, kita memerlukan strategi baru, dan kita memerlukan langkah taktis baru untuk mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan inklusif bagi negara berkembang,” ucap Joko Widodo saat membuka Joint Leaders, Forum Tingkat Tinggi Kemitraan Multi Pihak dan Forum Indonesia Afrika di Hotel Mulia, Bali pada Senin (2/9/2024).
Dia melanjutkan, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut yang telah menimbulkan banyak korban jiwa dan mengganggu rantai pasok global.
Sayangnya dalam kondisi saat ini, solidaritas internasional justru menurun, semangat multilateralisme semakin dikesampingkan, dan fragmentasi semakin melebar.
Sinergi antara negara maju dan berkembang harus terus ditingkatkan dalam menghadapi tantangan perekonomian global. Khususnya untuk membantu perekonomian negara di dunia di bagian selatan atau global south.
“Solidaritas global perlu dihidupkan kembali untuk meningkatkan kerja sama selatan-selatan untuk meningkatkan kerja sama antara negara di kawasan utara-selatan, sehingga kita dapat saling melengkapi dan saling bahu membahu dalam mengatasi tantangan-tantangan global,” terang Joko Widodo.
Joko Widodo menegaskan, pencapaian target SDGs harus tetap menjadi fokus utama pembangunan global. Hal ini harus selaras dengan prioritas pembangunan nasional dan regional. Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari solusi global.
“Membela kepentingan global south sekaligus menjadi bridge builder dalam memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan solidaritas untuk mempercepat pencapaian SDGs. Ini adalah komitmen yang konsisten Indonesia usung sejak Konferensi Asia Afrika 69 tahun yang lalu,” tutur dia.
Indonesia siap bermitra dengan siapa pun terutama dengan negara-negara di kawasan Afrika sebagai kunci agenda pembangunan global. Hasil kemitraan Indonesia-Afrika sejauh ini membawa peningkatan besar volume perdagangan dan berbagai kesepakatan perjanjian perdagangan.
“Bahkan, Forum Indonesia Afrika tahun ini telah mencatat kesepakatan bisnis yang nilainya mencapai US$ 3,5 miliar hampir 6 kali lipat dari Forum Indonesia Afrika pertama pada 2018,” tutup Joko Widodo.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




