Cara Pertamina Libatkan Warga untuk Ubah Sampah Jadi Produk Furnitur Bernilai Jual
Rabu, 11 September 2024 | 21:34 WIB
Prabumulih, Beritasatu.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Zona 4 Prabumulih Field mendorong warga sekitar untuk mengolah sisa sampah residu yang tidak bernilai, menjadi produk furnitur berdaya saing di pasaran.
Aneka ragam produk kursi dan meja berbahan dasar plastik dari pusat daur ulang (PDU) binaan Pertamina ini sudah digunakan di rumah gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dan ajang G-20 di Bali.
"Sampah ini diambil dari kebanyakan dari masyarakat Prabumulih, ada yang kita ambil, dan ada juga warga yang langsung setor ke sini," kata Ketua program Rindu Resik binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 Prabumulih Field, Romdoni di Prabumulih, Rabu (11/9/2024).
Uniknya, warga yang membawa sampah langsung dibayar oleh pusat daur ulang binaan Pertamian. "Bank sampah seperti nabung, kalau di sini sistemnya cash, jadi warga atau pengepul menjual sampah ke sini, langsung kita bayar," kata Romdoni.
Program Daur Ulang Sampah Residu Anorganik (Rindu Resik) yang merupakan mitra binaan Pertamina sejak 2019 ini bisa mengumpulkan sampah dari warga hingga 3-5 ton sehari dengan omzet sekitar Rp 15 juta. Adapun sekitar Rp 4 juta dari nilai itu menjadi keuntungan pusat daur ulang ini.
"Untuk tahun ini sampah tidak hanya dari Prabumulih, tetapi dari Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Batu Raja. Sumsel menjadi proyek percontohan untuk daur ulang," kata dia.
Dia mengatakan furnitur yang diolah pusat daur ulang sudah dipesan oleh RSU Prabumulih, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), gubernur Sumsel, hingga untuk acara pendukung G-20 di Bali. "Kemarin sudah ada permintaan dari Singaputa, tetapi masih penjajakan," kata dia.
Senior Manager Prabumulih Field Pertamina Hulu Rokan Zona 4 M Luthfi Ferdiansyah mengatakan Pertamina terus bersinergi dalam kerja sama dengan mitra binaan, termasuk pusat daur ulang sampah. "Kalau ada peluang yang lebih baik (ekspor Singapura), akan kita bantu," kata dia.
M Luthfi Ferdiansyah mengatakan Rindu Resik merupakan inovasi sosial untuk mengatasi pengurangan sampah plastik residu di tempat pembuangan akhir (TPA) induk Prabumulih. Program tersebut mendaur ulang sampah plastik residu menjadi papan plastik yang dimanfaatkan menjadi furnitur, termasuk wadah getah karet ecofriendly.
Program ini merupakan kerja sama antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Prabumulih, kelompok pusat daur ulang (PDU) dan Pertamina Prabumulih Field di Kelurahan Sungai Medang dan Kelurahan Muara Dua.
Program ini berhasil menekan 12.375 ton CO2eq per tahun emisi gas rumah kaca dan tiga TPA ilegal di Prabumulih berhasil ditutup. "Banjir saat musim hujan dan kebakaran TPA induk saat musim kemarau menjadi momok bagi masyakarat Prabumulih," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




