Yield SUN Akan Naik Pekan Ini karena Konflik Timur Tengah dan Pemilu AS
Senin, 28 Oktober 2024 | 06:08 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan akan terkoreksi akibat peningkatan imbal hasil (yield) di tengah ketidakpastian Pemilu Amerika Serikat (AS). Analis memproyeksikan bahwa imbal hasil dengan tenor 10 tahun akan bergerak dalam rentang 6,5%-6,9%.
"Pasar cenderung mendukung Kamala Harris dalam Pemilu AS, karena pemerintahan Donald Trump dinilai akan memperketat inflasi dan meningkatkan ketidakpastian kebijakan ekonomi. Oleh karena itu, yield SUN diprediksi akan sedikit meningkat seiring perkembangan ini," kata analis pendapatan tetap PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin, Minggu (27/10/2024).
BACA JUGA
Prospek Cerah karena Refinancing, Penerbitan Surat Utang Korporasi Akan Tembus Rp 143 Triliun
Ahmad menjelaskan sentimen eksternal secara umum diproyeksikan positif. Yield di negara-negara maju, seperti AS, menunjukkan tren penurunan akibat siklus pelonggaran moneter yang dilakukan oleh bank sentral untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tren ini berdampak positif bagi pasar negara berkembang, seperti Indonesia, yang dapat menarik aliran modal asing. Penurunan suku bunga di negara maju juga mendorong investor untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara berkembang.
"Bank sentral negara maju terus mempertahankan premi tetap, membuka peluang bagi yield di negara berkembang dengan peringkat kredit lebih rendah untuk bergerak lebih rendah pula. Di sisi lain, suku bunga rendah ini menarik minat investor asing untuk berinvestasi di pasar negara berkembang guna mendapatkan keuntungan lebih tinggi," jelas Ahmad.
Ia melanjutkan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga merupakan faktor penting yang perlu diantisipasi. Kondisi di wilayah tersebut mengalami eskalasi yang mengakibatkan kenaikan yield surat utang dalam 2 bulan terakhir. Eskalasi lebih lanjut bisa berdampak signifikan pada kenaikan yield, terutama karena pengaruhnya terhadap harga minyak, inflasi, dan kebijakan moneter bank sentral global.
"Risiko geopolitik masih cukup tinggi dan perlu diantisipasi. Jika eskalasi di Timur Tengah meningkat, rebound yield bisa lebih tinggi dari perkiraan," tambah Ahmad.
Ahmad menekankan risiko geopolitik dan kebijakan ekonomi negara maju, seperti AS, akan terus memengaruhi volatilitas di pasar SUN pekan ini. "Namun, prospek pelonggaran moneter dan sentimen positif dari kebijakan bank sentral negara maju tetap memberi harapan bagi pasar negara berkembang," ujar Ahmad.
Ia memperkirakan yield 10 tahun akan bergerak dalam kisaran 6,5%-6,9%, dengan kecenderungan bergerak mendatar dan sedikit meningkat hingga 6,77% dari penutupan pekan sebelumnya 6,751%.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




