Pefindo Proyeksikan Surat Utang Korporasi Tembus Rp 196,86 Triliun
Rabu, 11 Februari 2026 | 15:57 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi pada 2026 berada pada kisaran Rp 154–Rp 196,86 triliun, sejalan dengan tingginya kebutuhan pendanaan dan biaya yang kompetitif.
Head of Economic Research Division Suhindarto mengatakan proyeksi tersebut ditopang oleh solidnya kebutuhan pendanaan jangka panjang, tren penurunan yield saat ini, dan momentum cost alias biaya yang semakin kompetitif di pasar obligasi.
Proyeksi ini juga berkaca pada 2025, ketika penerbitan surat utang korporasi mencatat rekor tertinggi dalam sejarah pasar domestik, mencapai Rp 244,3 triliun, melampaui rekor 2017 senilai Rp 185 triliun.
"Lonjakan ini dipicu kebutuhan refinancing, pendanaan perbankan yang relatif lebih mahal, serta strategi emiten mengamankan sumber pendanaan jangka panjang di tengah tren penurunan biaya dana," jelasnya dalam konferensi pers, Rabu (11/2/2026).
Ia menyebut tren penurunan yield tercermin pada hampir seluruh peringkat surat utang, termasuk segmen BBB yang kini mendekati average lending rate perbankan. Kondisi ini membuat perusahaan memilih tenor lebih panjang.
"Maka dari itu, porsi tenor lima tahun meningkat menjadi 34,36%, sementara tenor pendek seperti satu tahun dan tiga tahun turun masing-masing menjadi 22% dan 28,64%. Tenor tujuh tahun juga menunjukkan peningkatan menjadi 12,6% dari total penerbitan," ujar dia.
Selain itu, penurunan yield paling signifikan terjadi pada surat utang berperingkat AAA, sehingga mendorong emiten prime memanfaatkan momentum untuk memperoleh pendanaan murah. Porsi penerbitan AAA melonjak menjadi 58% dari total, dengan nilai yang naik signifikan dari Rp 58,9 triliun menjadi Rp 164,96 triliun.
Secara jumlah, Suhindarto mengatakan penerbitan BUMN dan swasta relatif berimbang, dengan BUMN menghimpun sekitar Rp 337,5 triliun (sebagian besar berasal dari Danareksa) dan sektor swasta Rp 146,8 triliun. "Dengan demikian, seluruh tujuan penerbitan mulai dari refinancing, modal kerja, hingga investasi meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.
Aktivitas penerbitan pada 2025 turut ditopang oleh penurunan yield benchmark setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali. Penurunan ini mendorong turunnya kupon efektif pada tenor tiga tahun dan menopang pertumbuhan penerbitan sepanjang tahun.
Hampir seluruh kategori penerbitan meningkat. Total penerbitan mencapai Rp 284,3 triliun atau tumbuh 89,87% dibandingkan 2024. Penerbitan obligasi korporasi naik menjadi Rp 219,1 triliun, sementara penerbitan MTN melonjak dari Rp 1,5 triliun menjadi Rp 62,7 triliun, terutama akibat aksi penerbitan Danareksa melalui skema private placement. Penerbitan sekuritisasi dan surat berharga komersial naik dari Rp 0,5 triliun menjadi Rp 2,5 triliun.
Dari sisi sektor, penerbitan terbesar berasal dari perusahaan induk senilai Rp 69,3 triliun, disusul sektor perbankan Rp 41,7 triliun, multifinance, pulp & paper Rp 33,2 triliun, serta pertambangan. Pefindo telah memeringkat Rp 189,7 triliun dari total penerbitan tersebut, dengan porsi terbesar dari perbankan, pulp & paper, pertambangan, dan multifinance.
Terkait prospek 2026, Suhindarto menilai kondisi pasar obligasi korporasi tetap solid, didukung kebutuhan refinancing yang masih tinggi mencapai Rp 162,72 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




