ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pilkada Serentak Momentum Perkuat Rupiah (2)

Selasa, 30 Juni 2015 | 09:38 WIB
AM
N
FB
Penulis: Abdul Muslim, Nurjoni
Editor: FMB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah (Investor Daily / David Gitaroza)

Dihubungi terpisah, Chief Economist of Bank Central Asia (BCA) David Sumual berpendapat, guyuran uang baik rupiah maupun dolar AS dalam jumlah besar mencapai triliunan rupiah saat pilkada serentak pada 9 Desember 2015 akan ada pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Namun, dia menegaskan bahwa pengaruhnya itu kemungkinan kecil.

Menurut dia, sebagai gambaran penyetaraan kegiatan, gelontoran uang sewaktu pemilu-pemilu legislatif dan presiden sebelumnya juga belum terukur dengan baik seberapa besar pengaruhnya terhadap pergerakan rupiah.

"Tapi, pengaruhnya kecil. Kalau perkiraan saya dengan berbagai faktor eksternal dan internal yang saat ini masih cukup berat, hingga Desember mendatang, rupiah masih akan bergerak pada kisaran saat ini Rp 13.200 hingga 13.300 per dolar AS," ujar David, Senin (29/6).

Bahkan, dari pengalaman selama ini, calon petahana (incumbent) biasanya baru akan membelanjakan dana pribadi dan APBD menjelang dan mendekati pilkada, sehingga pengaruhnya untuk menggerakkan ekonomi daerah juga tidak terlalu signifikan. "Tujuannya agar pandangan masyarakat terhadap dirinya positif karena ada kucuran dana segar dan pembangunan mendekati pilkada," jelas dia.

ADVERTISEMENT

David menilai, pengaruh pilkada baru akan terlihat jika berlangsung demokratis dan aman karena akan makin meningkatkan kepercayaan investor asing. Mereka pun pada akhirnya lebih percaya diri untuk investasi langsung (foreign direct investment/FDI) di sektor riil manufaktur dan infrastruktur karena masa depan investasinya lebih terjamin.

"Dengan adanya investasi langsung di manufaktur, harapannya Indonesia bisa kembali menggairahkan ekonomi nasional dan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah yang akan mendatangkan dolar AS dan bisa menekan impor. Jika itu terjadi, rupiah pun akan menguat. Tapi, itu memang jangka menengah-panjang," tutur dia.

Menurut dia, ketika sebagian investor asing menarik dananya dari pasar keuangan Indonesia (outflow), terutama pasar modal seperti yang terjadi sekarang, itu juga terjadi pada semua negara berkembang (emerging market). Alasannya, karena tren menguatnya mata uang dolar AS terhadap hampir semua mata uang dan melemahnya pertumbuhan ekonomi di Asia dan Eropa. Belum lagi, adanya wacana bank sentral Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR) tahun ini.

Namun, lanjut dia, hal itu bukan berarti investor asing tidak percaya lagi dengan masa depan ekonomi dan pasar keuangan Indonesia. Walaupun ekonomi sedang sedikit melambat, mereka masih tetap percaya Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang bagus ke depannya. "Karena itu, jika pilkada serentak berlangsung sukses, itu akan menambah percaya diri mereka untuk investasi secara langsung," tambah David.

Senada, pengamat ekonomi dari Unika Atmajaya A Prasetyantoko berpendapat, gelontoran uang dalam jumlah besar ketika pilkada serentak Desember nanti kemungkinan berpengaruh kecil terhadap potensi penguatan rupiah dalam jangka pendek. Sebab, kucuran uang dalam dolar AS dari para peserta pilkada kemungkinan juga tidak akan besar. Apalagi, berbagai faktor ekonomi domestik dan eksternal juga masih cukup berat.

Dia menegaskan, problem utama rupiah dalam tren melemah lebih karena kurangnya pasokan dolar AS ke dalam negeri. Karena itu, pemerintah harus mendorong masuknya dolar ke dalam negeri, sehingga menjadi berlimpah dan murah, serta akan mendorong rupiah kembali menguat.

"Karena itu, kita memang harus mampu menggenjot ekspor barang bernilai tambah agar memeroleh pendapatan dolar AS yang banyak dan impor bisa ditekan," katanya.

Sementara itu, terkait pilkada serentak yang demokratis dan aman, Prasetyantoko juga setuju bahwa hal itu akan menumbuhkan kepercayaan asing karena menciptakan kestabilan kebijakan di daerah sebagai tujuan investasi. Dalam jangka pendek, setelahnya, investor asing pun kemungkinan akan menggelontorkan dananya ke pasar keuangan atau pun FDI. Jika itu terjadi, rupiah akan kembali menguat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

EKONOMI
Rupiah Terkapar! Defisit Fiskal dan Modal Asing Kabur Jadi Pemicunya

Rupiah Terkapar! Defisit Fiskal dan Modal Asing Kabur Jadi Pemicunya

MULTIMEDIA
Mendag Minta Eksportir Manfaatkan Pelemahan Rupiah

Mendag Minta Eksportir Manfaatkan Pelemahan Rupiah

EKONOMI
BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
Aksi Ambil Untung Dolar AS Bawa Rupiah Menguat ke Rp 17.475

Aksi Ambil Untung Dolar AS Bawa Rupiah Menguat ke Rp 17.475

EKONOMI
Rupiah Hari Ini Turun Makin Dalam Menembus Rp 17.528

Rupiah Hari Ini Turun Makin Dalam Menembus Rp 17.528

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon