ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Analis: BI Bisa Turunkan Suku Bunga untuk Dorong Likuiditas Pasar

Rabu, 19 Maret 2025 | 13:07 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Ilustrasi Pasar Saham
Ilustrasi Pasar Saham (Unsplash/Anne Nygård)

Jakarta, Beritasatu.com - Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, saat ini pelaku pasar berharap Bank Indonesia (BI) dapat menurunkan suku bunga acuan untuk tetap memberikan sentimen positif pada pasar modal meski pasar sudah kembali kondusif.

Menurutnya, penurunan suku bunga oleh BI diperlukan untuk mendorong likuiditas pasar dan pertumbuhan ekonomi yang lebih optimal.

"Berharap ada penurunan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI, paling 20 basis poin, sehingga nantinya bisa mendorong likuiditas di market, khususnya secara umumnya bisa mendorong likuiditas di pasar keuangan, serta berpotensi mendorong ekonomi yang lebih optimal ke depan," kata Nafan saat dihubungi.

ADVERTISEMENT

Selain itu, penurunan suku bunga BI juga diharapkan mampu meningkatkan optimisme pada kondisi makro ekonomi di tanah air.

Menurut Nafan, hingga saat ini nilai tukar rupiah masih cenderung stabil, ditambah dengan cadangan devisa negara yang sudah cukup memadai. Karena itu, sudah sepatutnya BI menurunkan suku bunga acuan untuk menciptakan sentimen positif terhadap pasar.

"BI seharusnya memiliki ruang yang terbuka lebar untuk menurunkan suku bunga acuan biar investor bisa semakin yakin bahwa outlook ekonom Indonesia akan semakin membaik," jelasnya.

Ia mengatakan, kepercayaan investor dapat mendorong performa indeks harga saham gabungan (IHSG) ke depan.

"Apalagi sebenarnya IHSG sudah jauh sekali di bawah fairly valued ya, artinya sudah undervalued kalau secara fundamental. Kalau secara teknikal, selain over sold, IHSG sudah positive divergence ya kalau kita lihat dari momentum indicators-nya. Banyak sekali momentum indicators yang menunjukkan," bebernya.

Ekonom itu berharap, fase downtrend IHSG mulai terbatas dan muncul fase akumulasi.

"Jadi dari fase mark down, ada harapan untuk fase akumulasi, nanti diharapkan ada fase mark up," ucapnya.

Nafan menegaskan, saat ini investor masih menanti kebijakan pro pasar dari pemerintah.

Singgung Kebijakan Pemerintah

Lebih lanjut, Nafan juga menyinggung berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari efisiensi anggaran, makan bergizi gratis, Danantara, hingga Koperasi Desa (Kop Des) Merah Putih.

"Tidak masalah program itu dijalankan, tapi akan lebih baik jika program-program tersebut di-review ulang, sehingga kelemahan-kelemahannya bisa ditutupi, sehingga bisa semakin mengoptimalkan perekonomian kita," ujarnya.

Ia menilai, efek transisi pergantian kepemimpinan di pemerintahan memang masih terasa hingga saat ini. Meski demikian, ia berharap agar program-program pemerintah dapat berdampak positif bagi ekonomi Indonesia.

Hal tersebut diyakini akan menciptakan sentimen di kalangan investor, sehingga pasar saham di dalam negeri bisa kembali dilirik.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

MULTIMEDIA
Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

NASIONAL
BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

EKONOMI
BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon