Relaksasi Impor Harus Diimbangi Kekuatan Industri
Sabtu, 5 Juli 2025 | 21:07 WIB
Tangerang, Beritasatu.com - Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Habibie menyoroti kebijakan relaksasi impor yang tengah diterapkan pemerintah.
Menurutnya, pelonggaran aturan impor berisiko melemahkan daya saing industri nasional jika tidak diiringi dengan penguatan sektor dalam negeri.
"Kalau kita terlalu longgar dalam hal itu, nanti kita sendiri yang kena getahnya," ujar Ilham seusai membuka acara PII di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (5/7/2025).
Pernyataan tersebut menanggapi langkah Kementerian Perdagangan yang merevisi sejumlah regulasi impor dalam upaya mendukung kelancaran perdagangan.
Namun, Ilham mengingatkan bahwa kebijakan ini perlu dijalankan dengan penuh kehati-hatian dan mempertimbangkan kondisi riil industri nasional.
Ia menjelaskan bahwa pelonggaran aturan impor bisa saja menjadi bagian dari strategi diplomasi dagang, tetapi dampaknya terhadap industri domestik tidak bisa diabaikan.
"Kalau kita tidak hati-hati, kita akan menghadapi tsunami barang dalam waktu sekejap. Itu bisa mematikan industri, dalam arti yang ekstrem," tegasnya.
Ilham juga mencatat bahwa beberapa sektor manufaktur, khususnya tekstil, sudah mulai merasakan dampak dari membanjirnya produk impor. Kondisi ini bahkan telah mendorong terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan.
"Kalau ada tsunami barang masuk ke Indonesia, harus ada regulasi yang membendung. Tidak bisa dibiarkan mengalir bebas," katanya.
Untuk itu, Ilham menekankan perlunya keseimbangan antara kepentingan perdagangan internasional dan keberlangsungan industri lokal.
Ia berharap pemerintah lebih waspada dalam menyusun kebijakan perdagangan, agar tidak melemahkan daya tahan industri nasional dalam jangka panjang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




