Diplomasi Garuda Jadi Bukti Negosiasi Terbaik bagi Ekonomi Indonesia
Rabu, 30 Juli 2025 | 14:53 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Diplomasi Garuda membuktikan pencapaian hebat di tengah berbagai kritik dan kekhawatiran soal tarif resiprokal. Hasil kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat (AS) menunjukkan kekuatan lobi pemerintah Indonesia.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, hasil negosiasi tarif Indonesia dengan AS patut disyukuri. Hal itu mengingat Indonesia sudah mengambil langkah cepat dan tepat untuk terhindar dari dampak tarif.
Respons cepat pemerintah menanggapi ancaman tarif AS telah menyelamatkan banyak Industri. Bukan hanya soal tarif resiprokal turun, tetapi kejelasan mengenai ancaman tarif tersebut telah menghilangkan ketidakpastian bagi para pelaku usaha.
Susi berujar, waktu Bapak Presiden Prabowo Subianto melakukan perundingan dengan AS itu sangat tepat pada Selasa (15/7/2025) lalu. Kesepakatan yang tercapai di pertengahan bulan ini memberikan kejelasan bagi perputaran bisnis industri, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), apparel, foodware, dan sebagainya.
"Bayangkan kalau Bapak Presiden belum sepakat dengan Trump, enggak ada kepastian Indonesia kena tarif berapa. Bisa jadi order para perusahaan ekspor di Indonesia lari ke beberapa negara yang sudah jelas tarifnya," ucap Susiwijono pada Selasa (29/7/2025).
Tak hanya itu, Susi menyoroti bahwa Indonesia bukanlah negara yang paling dirugikan atas tarif resiprokal AS. Kewajiban Indonesia membeli barang AS sebesar US$ 34 miliar sangat rendah dibandingkan negara lain, seperti Jepang ataupun Uni Eropa.
Susi menuturkan, walau Jepang dikenai tarif lebih rendah yakni 15%, tetapi mereka memiliki kewajiban untuk investasi sebesar US$ 550 miliar di Amerika.
Sementara itu, Uni Eropa diharuskan membeli energi AS senilai USUS$ 750 miliar. Uni Eropa juga diwajibkan investasi ke dalam industri AS sebesar US$ 600 miliar.
"Jadi totalnya US$ 1,350 miliar untuk Uni Eropa, itu angka yang luar biasa," sebut Susi.
Susi menuturkan, berbagai risiko tarif resiprokal AS tersebut belum pernah ada terealisasi. Indonesia masih menikmati tarif yang sebelumnya disepakati karena belum ada penandatanganan kesepakatan tarif baru.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




