ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Masih Impor Alumunium, Bahlil Dukung Pembangunan Smelter Bauksit

Rabu, 15 Oktober 2025 | 17:21 WIB
MF
MK
Penulis: Muhammad Farhan | Editor: MBK
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (Beritasatu.com/Akmalal Hamdhi)

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah melarang ekspor bahan mentah bauksit guna meningkatkan nilai investasi hilirisasi produk turunan bauksit seperti alumunium.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut ada sejumlah perusahaan yang ingin membangun smelter bauksit. Menurut Bahlil, situasi ini juga disebabkan masih tingginya kebutuhan domestik terhadap produk turunan bauksit sehingga praktik impor masih banyak terjadi.

“Saat ini kita masih banyak impor, produk-produk turunan dari bauksit seperti alumunium. Jadi kebutuhan dalam negeri dengan kapasitas industri masih lebih besar. Jadi tidak masalah, masih aman untuk membangun smelter bauksit,” jelas Bahlil dalam sesi jumpa pers di Minerba Convex 2025, JCC Senayan, Rabu (15/10/2025).

ADVERTISEMENT

Bahlil mengungkapkan, total kapasitas smelter bauksit yang tersedia secara nasional baru mencapai 17,5 juta ton. “Dari semua smelter yang sudah ada, kapasitasnya 17,5 juta terhadap barang bakunya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan pelarangan ekspor bahan mentah bauksit merupakan bagian dari upaya peningkatan investasi hilirisasi energi. “Bauksit ini menjadi salah satu komoditas yang akan kita dorong untuk hilirisasi. Kita juga sudah melarang ekspor bahan mentahnya,” katanya.

Bahlil menambahkan, kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah seperti bauksit dilakukan untuk memenuhi target investasi hilirisasi minerba sebesar US$ 7 miliar–US$ 8 miliar. “Realisasinya sudah mencapai US$ 3,8 miliar sampai US$ 4 miliar hingga Agustus lalu,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi dengan cadangan mineral bauksit yang melimpah. Potensi ini harus dimanfaatkan mengingat kebutuhan dalam negeri yang tinggi.

“Karena bijih bauksit paling banyak berada di Kalimantan Barat. Kenapa ini harus dibangun? Karena kebutuhan kita besar, separuh kebutuhan itu masih impor,” paparnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon