Rupiah Senin 5 Januari 2026 Ditutup Melemah 0,09 Persen ke Rp 16.740
Senin, 5 Januari 2026 | 16:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (5/1/2026). Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Rupiah ditutup turun 15 poin atau sekitar 0,09% ke level Rp 16.740 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi penutupan perdagangan Jumat (2/1/2026) di Rp 16.725 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,26% ke level 98,68.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah terutama bersumber dari faktor eksternal yang kembali memanas, khususnya dinamika geopolitik global dan arah kebijakan AS.
Dari sisi global, Ibrahim menyoroti langkah agresif Washington terhadap Venezuela. Pemerintah AS mengonfirmasi penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dalam sebuah operasi militer di Caracas. Maduro kemudian diterbangkan ke AS untuk menghadapi sejumlah tuduhan kriminal.
“Operasi ini menjadi bentuk intervensi langsung AS paling signifikan di Venezuela dalam beberapa dekade terakhir dan memicu kecaman dari sejumlah negara,” ujar Ibrahim, Senin (5/1/2026).
Presiden AS Donald Trump menyebut penangkapan Maduro sebagai langkah tegas terhadap rezim yang ia anggap kriminal. Trump juga menegaskan komitmen AS untuk memastikan proses transisi pemerintahan yang aman dan tertib di Venezuela.
Tak hanya itu, Ibrahim menambahkan, Trump turut melontarkan ancaman tindakan terhadap negara-negara yang dinilai berseberangan dengan kebijakan AS, seperti Kolombia dan Iran. Ia juga kembali menggulirkan wacana pengambilalihan Greenland.
Serangkaian pernyataan dan langkah militer tersebut memperbesar ketidakpastian geopolitik global. Sejumlah analis menilai kondisi ini berpotensi memperkuat dolar AS sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari kawasan Asia, pasar juga mencermati rencana China untuk menambah stimulus ekonomi guna mendorong konsumsi domestik. Pemerintah Beijing mengumumkan paket stimulus senilai 62,5 miliar yuan atau sekitar US$ 8,94 miliar untuk memperpanjang subsidi barang elektronik dan produk konsumen hingga akhir Desember lalu.
Sentimen Dalam Negeri
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut sentimen positif datang dari kinerja neraca perdagangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$ 2,66 miliar pada November 2025.
“Dengan capaian tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” jelas Ibrahim.
Nilai ekspor Indonesia pada November 2025 tercatat sebesar US$ 22,52 miliar, turun 6,6% secara tahunan. Pelemahan ini terutama dipicu penurunan ekspor nonmigas, seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, serta besi dan baja.
Sementara itu, impor Indonesia pada periode yang sama mencapai US$1 9,86 miliar, turun 0,46% secara tahunan. Surplus perdagangan November 2025 terutama disokong sektor nonmigas sebesar US$ 4,64 miliar, dengan kontributor utama lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Meski surplus masih terjaga, Ibrahim mengingatkan adanya potensi penyempitan surplus perdagangan pada 2026. Tekanan permintaan global dan volatilitas harga komoditas dinilai menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




