Tekanan Belum Selesai, Rupiah Kembali Tembus Rp 17.800 Per Dolar AS
Jumat, 19 Juni 2026 | 09:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (19/6/2026). Mata uang Garuda bahkan kembali menembus level psikologis Rp 17.800 per dolar AS seiring penguatan dolar yang masih berlanjut di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.20 WIB, rupiah di pasar spot dibuka melemah 47 poin atau 0,26% ke posisi Rp 17.841 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah sehari sebelumnya, Kamis (18/6/2026), rupiah ditutup turun 32 poin ke level Rp 17.794 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah datang dari penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam satu tahun. Penguatan dolar dipicu meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat setelah Federal Reserve (The Fed) mengeluarkan sinyal kebijakan yang lebih ketat.
Pada pertemuan terakhirnya, bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, pasar melihat peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, terutama setelah Kevin Warsh memulai masa kepemimpinannya dengan agenda peninjauan kebijakan secara menyeluruh.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,45% menjadi 100,80 pada Kamis (18/6/2026), level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan tersebut terjadi setelah indeks dolar melonjak 0,85% pada sesi sebelumnya, yang menjadi penguatan harian terbesar dalam lebih dari tiga bulan.
Penguatan dolar juga menekan sejumlah mata uang utama dunia. Yen Jepang terperosok ke level terlemah dalam dua tahun, sementara euro turun 0,31% menjadi US$ 1,146 per euro dan poundsterling Inggris melemah 0,62% ke US$ 1,320 per pound, keduanya berada di titik terendah dalam lebih dari dua bulan.
“Pembaruan kebijakan hawkish The Fed mengancam akan memicu terobosan bullish untuk dolar AS,” kata analis mata uang senior di MUFG Lee Hardman.
Menurut dia, penguatan dolar didorong oleh penyesuaian ekspektasi suku bunga jangka pendek di Amerika Serikat yang meningkat tajam.
“Dolar AS telah memperoleh dukungan dari penyesuaian tajam yang lebih tinggi untuk suku bunga jangka pendek AS, lebih dari mengimbangi dampak yang meredam dari pengumuman kesepakatan AS-Iran pada akhir pekan,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Strategi Valuta Asing CIBC Capital Markets Sarah Ying. Ia menilai ruang penguatan dolar AS masih terbuka dalam waktu dekat.
“Ada ruang bagi dolar AS untuk menguat lebih lanjut,” ucap Sarah Ying.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




