Penurunan Saham Microsoft Tekan Kinerja Wall Street
Jumat, 30 Januari 2026 | 08:21 WIB
New York, Beritasatu.com – Indeks saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada Jumat (30/1/2026), setelah laporan kinerja emiten teknologi memicu kekhawatiran investor terkait besarnya belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Indeks S&P 500 dan Nasdaq yang sarat saham teknologi ditutup merah. Pelemahan memang berkurang menjelang penutupan perdagangan, tetapi sektor teknologi tetap menjadi penekan utama.
Saham Microsoft menjadi penekan terbesar bagi S&P 500 setelah anjlok 10% karena pendapatan layanan cloud-nya dinilai kurang memuaskan. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa investasi besar perusahaan dalam kerja sama dengan OpenAI belum memberikan hasil cukup cepat.
Indeks Dow Jones Industrial Average masih mampu mencatat kenaikan tipis 55,96 poin atau 0,11% ke level 49.071,56. Sementara itu, S&P 500 turun 9,02 poin atau 0,13% ke 6.969,01. Nasdaq Composite melemah 172,33 poin atau 0,72% ke 23.685,12 setelah memangkas sebagian kerugian pada akhir sesi.
Managing Director & Co-CIO Paleo Leon, John Praveen, mengatakan kekecewaan terhadap Microsoft memunculkan kekhawatiran nyata bahwa investasi AI dapat menggerus model bisnis perusahaan software.
“Investor kini cenderung mengurangi eksposur ke saham dan memilih langkah lebih aman di tengah berbagai ketidakpastian,” kata dia dilansir dari Reuters.
Ia menilai ketidakpastian tersebut mencakup siapa yang akan menjadi ketua Federal Reserve berikutnya, seberapa banyak pemangkasan suku bunga yang akan dilakukan, dinamika politik Washington terkait Iran dan Greenland, hingga potensi penutupan pemerintah AS.
Sejumlah saham software lain yang ikut tertekan antara lain Salesforce turun 6%, Oracle melemah 2,2%, dan Adobe turun 2,6%. Perusahaan keamanan cloud Datadog juga jatuh 8,8%.
CEO sekaligus CIO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai sebagian investor khawatir AI akan mengganggu bisnis perusahaan seperti ServiceNow dan Salesforce, terutama jika teknologi tersebut dapat menggantikan sebagian layanan mereka.
“Terlepas dari kenyataan yang ada, saham-saham tersebut sudah terlanjur mengalami tekanan besar,” katanya.
Pada Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham naik melampaui saham turun dengan rasio 1,19 berbanding 1. Tercatat 611 saham mencetak level tertinggi baru dan 176 saham menyentuh level terendah baru.
Sementara Nasdaq mencatat 2.067 saham naik dan 2.746 saham turun, dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,33 berbanding 1. S&P 500 mencatat 51 level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 20 level terendah baru.
Total volume transaksi di bursa AS mencapai 23,36 miliar saham, jauh di atas rata-rata pergerakan 20 hari sebesar 18,83 miliar saham.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




