Industri Kripto Indonesia Masuk Fase Konsolidasi dan Pendewasaan
Rabu, 4 Maret 2026 | 12:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Industri kripto Indonesia dinilai memasuki fase baru yang lebih matang. Apabila satu dekade lalu pertumbuhan pengguna dan volume transaksi menjadi fokus utama, kini perhatian pelaku industri mulai bergeser ke aspek yang lebih fundamental, seperti tata kelola, literasi, perlindungan konsumen, hingga kontribusi terhadap perekonomian nasional.
CEO Indodax, William Sutanto, mengatakan industri kripto saat ini memasuki fase konsolidasi yang membutuhkan pendekatan lebih struktural dan berorientasi jangka panjang.
"Kami melihat industri kripto Indonesia mulai memasuki fase konsolidasi dan pendewasaan. Tantangannya bukan lagi soal membangun awareness, tetapi bagaimana membangun kepercayaan jangka panjang melalui tata kelola yang kuat, edukasi berkelanjutan, serta kolaborasi erat dengan regulator dan komunitas," ujar William dalam gelaran Indodax 12th Years Anniversary, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurut William, fase konsolidasi ini menuntut penguatan aspek keamanan dan transparansi sebagai fondasi utama industri kripto. Tahun ini, Indodax juga meningkatkan investasi pada sistem keamanan teknologi informasi (IT security) dan menaikkan standar transparansi, salah satunya melalui publikasi proof of reserves untuk keterbukaan.

Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai perkembangan kripto harus ditempatkan dalam kerangka besar pembangunan infrastruktur keuangan digital nasional.
Ia menegaskan, pertumbuhan adopsi kripto yang pesat perlu diimbangi regulasi adaptif, perlindungan masyarakat, serta tata kelola dan sistem pelaporan yang kredibel di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.
Misbakhun menyebut pemerintah mengambil pendekatan fasilitatif terhadap industri kripto, mengingat sektor ini masih tergolong industri muda.
"Melalui Undang-Undang P2SK dan ruang demokratis seperti regulatory sandbox, negara hadir bukan untuk melarang, melainkan memfasilitasi inovasi seperti tokenisasi real-world asset agar tetap berjalan di dalam protokol perlindungan konsumen dan anti-pencucian uang," tegas dia.
Sementara itu, CEO Malaka sekaligus konten kreator Ferry Irwandi menyoroti tantangan dari sisi literasi masyarakat. Menurutnya, persoalan utama bukan hanya volatilitas harga, tetapi juga kualitas pemahaman publik terhadap aset kripto dan teknologi blockchain.
"Tantangan utamanya adalah masyarakat masih menjadikan kripto sekadar alat spekulasi dan mencari sinyal profit instan, mengabaikan inovasi blockchain di baliknya. Karenanya, tugas influencer bukan cuma menjual narasi manis dan probabilitas profit, tetapi wajib mengedukasi fundamental dan manajemen risiko di pasar yang volatil ini," papar Ferry Irwandi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




