Buka Puasa Bersama Media, ICDX Gelar Commodity Outlook 2026
Kamis, 12 Maret 2026 | 12:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menggelar buka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Kegiatan tahunan ICDX ini dikemas dalam gelaran ICDX Commodity Outlook, dengan tema “GOLD & CRUDE OIL : “Availability, Geopolitics and Global Market”.
Secara umum, ICDX Commodity Outlook ini memberikan gambaran tentang harga Komoditas Crude Oil (Minyak Mentah) dan Emas di tahun 2026 ini diperkirakan akan terus bergerak. Hal ini selain karena ada faktor ekonomi global dan ketersediaan, juga akan dipengaruhi gejolak politik dunia khususnya ketegangan militer dan politik di kawasan Timur Tengah.
Direktur ICDX Nursalam mengatakan informasi yang disampaikan dalam Commodity Outlook 2026 diharapkan dapat menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya di tahun 2026 ini.
Baca Juga: Babak Baru Ekosistem Pasar Uang dan Valas, Bank Indonesia Resmi Berikan Izin Usaha kepada ICDX dan ICH
“Khusus untuk kontrak minyak mentah dan emas, kita tahu perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah, tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap harga komoditas tersebut,” ujar Nursalam.
“Di ICDX, untuk perdagangan multilateral telah diperdagangkan kontrak-kontrak berjangka perdagangan atas kedua komoditas minyak mentah dan emas, yang tentunya dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ia mengungkapkan dalam kondisi harga komoditas yang sangat fluktuatif karena berbagai faktor, mekanisme lindung nilai ini sangat diperlukan para pelaku usaha dengan bisnis jangka panjang. Untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah dan emas, saat ini di ICDX diperdagangkan produk-produk yang diperdagangkan secara multilateral yaitu GOFX.
“GOFX sendiri merupakan produk instrumen derivatif komoditas yang terdiri dari Kontrak Spot dan Berjangka Emas, Kontrak Berjangka Minyak Mentah, serta Kontrak Spot Forex berukuran mini (1/10 dari kontrak standar)”, ungkap Nursalam.
Terkait perdagangan kontrak berjangka komoditas emas dan minyak mentah, di ICDX sepanjang tahun 2025 tercatat transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis minyak mentah mencapai 61.260 lot. Sedangkan transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis emas mencapai 1.627.698 lot.
Adapun untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah, didominasi oleh kontrak COFRMic dengan transaksi sebanyak 51.548 lot. Kontrak COFRMic merupakan kontrak berjangka minyak mentah berukuran mikro dengan acuan harga West Texas Intermediate (WTI) sebagai underlying. Kontrak ini memiliki ukuran sebesar 10 barel per lot, sehingga memberikan akses yang lebih fleksibel bagi pelaku pasar untuk melakukan transaksi maupun lindung nilai terhadap pergerakan harga minyak mentah.
Sedangkan untuk kontrak berjangka komoditas emas didominasi oleh kontrak GOLDUDMic dengan transaksi sebanyak 682.310 lot. GOLDUDMic merupakan versi mikro dari kontrak GOLDUD dengan ukuran 1/100 dari kontrak standar. Minimum transaksi adalah 1 lot mikro (setara 0,01 kontrak GOLDUD). Ukuran kontrak yang lebih kecil membuat transaksi emas berbasis USD lebih terjangkau, namun tetap memberikan eksposur terhadap pergerakan harga emas global yang mengacu pada pasar Loco London.
GOLDUD merupakan kontrak gulir harian emas dalam denominasi USD yang diperdagangkan di bursa dengan ukuran kontrak sebesar 10 troy ounce per lot. Kontrak ini mengacu pada harga emas di pasar internasional Loco London dengan tingkat kemurnian 99,99%, sehingga mencerminkan pergerakan harga emas global.
Outlook Komoditas Emas
Analis dari Research and Development ICDX Tiffani Safinia mengatakan, tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat perannya sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global.
“Secara garis besar, sepanjang tahun 2025 untuk komoditas emas terdapat beberapa poin penting. Pertama, Sepanjang 2025 harga emas naik signifikan sebesar 64% dengan 53 all time highs. Kedua, All time high tercatat $4,550/oz pada 26 Desember 2025. Ketiga, Rata-rata harga sekitar $3,431/oz, dan keempat, Pembelian emas oleh bank sentral mencapai ±863 ton,” ujar Tiffani.
Beberapa sentimen yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025 yaitu, 3 kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps melalui keputusan FOMC, Konflik Timur Tengah (Israel - Iran), Perang AS – Ukraina, serta Ketegangan AS – China. Selain itu total pembelian emas oleh Bank Sentral AS hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibandingkan pada periode 2022–2024, serta Pergerakan dolar AS yang cenderung volatil dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga turut meningkatkan alokasi ke emas.
“Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025”, ungkap Tiffani.
Tiffani menambahkan, beberapa Lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026, yang didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral. Hal ini mencerminkan ekspektasi reli yang semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan pembelian agresif oleh bank sentral.
Ia menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global. Namun secara keseluruhan, harga emas diproyeksikan berada di kisaran US$5.500–US$6.000 per troy ons hingga akhir tahun 2026, dengan volatilitas yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Berdasarkan poll Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, Untuk tahun 2026 median proyeksi harga emas untuk 2026 berada di US$4.746,50 per troy ons, melonjak signifikan dibanding estimasi US$4.275 yang dirilis pada Oktober sebelumnya. Di tingkat institusional, Goldman Sachs Group Inc. merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400 per troy ons, dari sebelumnya US$4.900, dengan menyoroti meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral sebagai katalis utama. J.P. Morgan juga berada di kubu optimistis dengan proyeksi harga emas mencapai US$6.300 per troy ons pada kuartal IV 2026. Sementara itu, Morgan Stanley mematok proyeksi rata-rata US$4.600, dengan skenario bullish mencapai US$5.700 pada paruh kedua 2026.
Outlook Komoditas Minyak Mentah
Analis dari Research and Development ICDX Girta Putra Yoga mengatakan, tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi komoditas minyak mentah.
“Laju harga rata-rata emas hitam ini mencatatkan penurunan sebesar lebih dari 21 persen ke level $60 per barel pada akhir penutupan 2025, dibandingkan harga rata-rata di awal tahun yang mencapai level $77 per barel,” ujarnya.
Pada paruh pertama, harga minyak mentah mengalami penurunan sebesar hampir 10 persen, dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran level $69 per barel. Pergerakan harga minyak mentah global dibayangi oleh tekanan dari perang tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap China serta beberapa mitra dagang utamanya seperti Kanada dan Meksiko.
Imbasnya, harga minyak mentah rata-rata terpantau bergerak bearish atau turun hingga menyentuh level $62 per barel pada bulan Mei. Sebelum akhirnya kembali menguat pasca AS dan China menyepakati untuk melakukan jeda tarif selama 90 hari. Harga terus menguat hingga penutupan kuartal pertama didukung oleh sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca Israel melancarkan operasi “Rising Lion” ke Iran.
Namun, tren penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pembukaan paruh kedua, ancaman tarif AS yang lebih tinggi meskipun sejumlah negara telah melakukan negosiasi dengan itikad baik, membuat laju minyak mentah kembali tertekan. Selain itu, isyarat kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi, dan dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada bulan Oktober lalu membuat harga minyak mentah global bergerak bearish sepanjang paruh kedua tahun 2025. Harga rata-rata mengalami penurunan sebesar hampir 13 persen, dan diperdagangkan di kisaran level $64 per barel.
“Harapan optimis akan penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal tahun 2026. Penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah,” tutur Girta.
“Selain itu, ketegangan geopolitik yang mewarnai pembukaan tahun 2026 ini, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS – Iran, mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level $90 per barel pada awal Maret ini, dari sebelumnya di level $57 per barel pada awal Januari 2026,” tambahnya.
Di tahun 2026 ini, Girta menyatakan bahwa melihat dari situasi dan perkembangan yang ada di pasar saat ini, diperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini. Level resistance diproyeksikan akan berada di kisaran harga $95 - $100 per barel, dan level support di kisaran harga $80 - $75 per barel. Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump.
Buka Puasa ICDX Group Bersama Media
Bersamaan dengan Commodity Outlook 2026, Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) Group juga menggelar kegiatan Buka Puasa bersama media. Kegiatan Buka Puasa bersama para awak media ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan ICDX di Bulan Ramadhan setiap tahun.
Head of Corporate Communications ICDX Group, Podogiri Hatmoko mengatakan, kegiatan Buka Puasa Bersama media ini merupakan salah satu bentuk relasi antara ICDX dengan media massa, khususnya para jurnalis.
“Kami melihat bahwa media memiliki peran penting dalam distribusi informasi kepada masyarakat. Untuk itu, kami menempatkan media sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam kegiatan operasional. Harapannya, antara kami dengan media bisa bersinergi dalam menyampaikan informasi positif khususnya dalam industri perdagangan berjangka komoditi,” ujar Podogiri.
Podogiri menambahkan, untuk Ramadhan tahun 2026 ini, kami mengemas kegiatan buka puasa bersama dalam bentuk ICDX Commodity Outlook 2026 ; GOLD & CRUDE OIL : Availability, Geopolitics and Global Market.
“Harapan kami, dengan adanya forum ini para awak media bisa mendapatkan informasi terkait update pergerakan harga komoditas dunia yaitu minyak mentah, serta Emas yang akhir-akhir ini cukup menjadi perhatian karena ketegangan politik di Timur Tengah. Terkait update harga komoditas dunia, selain dalam forum ICDX Commodity Outlook ini, kami setiap saat juga terbuka melayani permintaan data dan informasi terkait komoditas dunia yang dibutuhkan para awak media dalam tugas jurnalistiknya,” kata Podogiri.
Sementara itu, Direktur ICDX Nursalam dalam sambutannya di sela-sela Buka Puasa bersama media tersebut mengungkapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada kawan-kawan jurnalis yang selama ini telah berkontribusi dalam menyampaikan informasi positif tentang industri perdagangan berjangka komoditi.
“Hal ini tentunya menjadi bagian penting dalam rangka pengembangan industri perdagangan berjangka komoditi, yang membutuhkan literasi dan edukasi yang baik dan berkelanjutan. Dalam hal ini, kami melihat media memiliki peran yang cukup sentral dalam memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Nursalam menambahkan, ditengah disrupsi digital serta maraknya sosial media saat ini, kami melihat bahwa media massa justru menjadi pilar penting dalam distribusi informasi kepada masyarakat.
“Dengan mekanisme pemberitaan yang terverifikasi, narasumber yang berkualitas dan sesuai dengan isu yang diberitakan, maka keberadaan media massa akan menjadi oase segar di tengah banyak berita hoax yang beredar,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi Kuartal I 2026, Notional Value Transaksi di ICDX Capai Rp 12.477 Triliun
EKONOMI
Babak Baru Ekosistem Pasar Uang dan Valas, Bank Indonesia Resmi Berikan Izin Usaha kepada ICDX dan ICH
EKONOMIBERITA LAINNYA
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Semen Padang vs Persib: Teja Bisa Ukir Rekor Baru di Tanah Kelahiran




