Dukung WFH, Pengamat Sarankan 3 Langkah Lain untuk Hemat Energi
Rabu, 25 Maret 2026 | 21:26 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kebijakan work from home (WFH) untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketidakpastian globa dinilai sebagai langkah tepat untuk jangka pendek. Pengamat energi Fabby Tumiwa mengatakan upaya penghematan BBM perlu dilakukan bukan karena kelangkaan pasokan, melainkan untuk mengantisipasi lonjakan biaya akibat tingginya harga minyak dunia dan ketergantungan impor.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 60% kebutuhan BBM dalam negeri. Sementara itu, sekitar 40% minyak mentah dan 50% BBM masih harus diimpor.
“Kondisi ini membuat biaya pengadaan BBM sangat dipengaruhi harga minyak global. Selain itu, ketidakpastian krisis energi global juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi,” ujar Fabby dalam Beritasatu Utama “Mitigasi Dampak Perang, Pemerintah Hemat Energi” di BTV, Rabu (25/3/2026).
Fabby menekankan, selain menjaga pasokan, pemerintah juga perlu mengendalikan permintaan BBM agar tidak terjadi lonjakan konsumsi.
“WFH adalah salah satu langkah yang bisa diterima dalam kondisi saat ini, tetapi bukan satu-satunya solusi,” kata CEO IESR ini.
Tiga Langkah Strategis
Fabby mengusulkan tiga langkah utama yang dapat dilakukan pemerintah dalam jangka pendek, khususnya dalam satu hingga dua minggu ke depan.
Pertama, memastikan pasokan BBM tetap aman dan mencukupi. Hal ini mencakup kesiapan produksi dalam negeri, impor, serta optimalisasi kilang dan distribusi.
“Kita harus memastikan kilang dan jalur distribusi berjalan optimal. Jangan sampai ada gangguan seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” jelasnya.
Kedua, mendorong pengendalian konsumsi BBM melalui kebijakan yang tepat. Selain WFH, pemerintah juga perlu mengoptimalkan penggunaan transportasi umum.
Menurut Fabby, pemberian insentif seperti diskon tarif transportasi publik di wilayah perkotaan, khususnya Jabodetabek, dapat mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.
“Jika transportasi umum disubsidi, masyarakat akan lebih terdorong untuk menggunakannya. Ini bisa mengurangi konsumsi BBM secara signifikan,” ujarnya.
Ketiga, menggalakkan penghematan energi secara luas, baik di sektor rumah tangga maupun perkantoran.
Ia mencontohkan, penghematan listrik seperti mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak digunakan dapat memberikan dampak kumulatif yang besar.
Fabby juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah menerapkan kebijakan serupa pada masa krisis melalui instruksi presiden terkait penghematan energi dan air.
Skenario Subsidi
Fabby menilai, kebijakan penghematan energi akan lebih efektif jika didukung instruksi resmi pemerintah dan kampanye publik yang masif.
“Jika ada instruksi presiden, itu akan sangat membantu mendorong partisipasi masyarakat dalam menghemat energi,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu menyiapkan skenario penyesuaian harga BBM bersubsidi dengan mempertimbangkan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Namun, ia menegaskan sebelum kebijakan tersebut diterapkan, komunikasi publik harus dilakukan secara transparan dan menyeluruh. “Komunikasi yang baik penting agar masyarakat memahami alasan kebijakan dan dapat menerima penyesuaian yang dilakukan,” ujar Fabby.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




