Penurunan Harga Minyak Bikin Wall Street Dekati Rekor Tertinggi
Rabu, 15 April 2026 | 08:50 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Indeks utama Wall Street menguat signifikan pada Selasa (14/4/2026), mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Penguatan ini terjadi seiring turunnya harga minyak dan meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan kembali berunding untuk mengakhiri konflik yang berdampak pada ekonomi global.
Dikutip dari AP, indeks S&P 500 naik 1,2% dan kini hanya terpaut 0,2% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Januari 2026. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 317 poin atau 0,7%, dan indeks Nasdaq Composite melonjak 2%.
Kenaikan ini mengikuti tren positif pasar saham global, didorong upaya diplomatik melalui jalur tidak resmi untuk membuka kembali perundingan antara AS dan Iran.
Apabila perundingan berhasil dan konflik tidak berkepanjangan, investor diperkirakan kembali fokus pada fundamental utama pasar saham, yakni kinerja laba perusahaan.
Sebelum konflik pecah, tren pertumbuhan laba perusahaan sudah mendorong kinerja pasar saham global. Para analis juga masih melihat potensi pertumbuhan ke depan.
Penurunan harga minyak turut membantu menekan biaya operasional berbagai sektor bisnis. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni 2026 turun 4,6% menjadi US$ 94,79 per barel. Meski masih lebih tinggi dibanding sekitar US$ 70 sebelum konflik pada akhir Februari 2026, harga tersebut jauh di bawah puncak US$ 119 saat ketegangan memuncak.
Namun, optimisme pasar masih rentan berubah. Sejak konflik dimulai, harapan kerap berganti dengan kekhawatiran, memicu volatilitas tajam di pasar keuangan.
Salah satu sumber ketidakpastian adalah Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Gangguan di wilayah ini sempat menahan pasokan minyak dan mendorong lonjakan harga.
Dampaknya terasa pada inflasi global. Di AS, inflasi tingkat produsen naik menjadi 4% pada Maret 2026 dari 3,4% pada Februari 2026, meski masih lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 4,6%.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi global tahun ini naik menjadi 4,4% dari 4,1% pada 2025, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan ke 3,8%.
IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026, dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,3%.
Secara keseluruhan, S&P 500 naik 81,14 poin ke level 6.967,38. Dow Jones bertambah 317,74 poin menjadi 48.535,99, dan Nasdaq melonjak 455,35 poin ke 23.639,08.
Di pasar global, indeks saham di Eropa dan Asia juga menguat. Indeks Kospi Korea Selatan naik 2,7%, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 2,4%.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




