Akuisisi Aster Jadi Motor Pertumbuhan Baru Chandra Asri Group
Jumat, 19 Juni 2026 | 07:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Langkah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dalam melakukan transformasi bisnis berskala besar mulai membuahkan hasil nyata. Akuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) yang kini resmi berganti nama menjadi Aster dinilai menjadi titik balik strategis yang krusial. Aksi korporasi ini berhasil mengubah profil bisnis Chandra Asri dari perusahaan petrokimia tunggal yang sangat bergantung pada siklus industri, menjadi kelompok usaha yang terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.
Menurut analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik, Chandra Asri berhasil melakukan lompatan besar dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan mampu bermutasi dari aset petrokimia senilai US$ 1,8 miliar yang sempat menghadapi tekanan margin negatif pada periode 2022–2024, menjadi sebuah platform bisnis raksasa dengan potensi pendapatan mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 10 miliar.
"Aster secara efektif mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini energi telah menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan," ujar Nizam dalam risetnya.
Keberhasilan transformasi ini ditopang penuh oleh rampungnya akuisisi Aster pada tahun 2025 yang mencakup kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari serta fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun. Lini bisnis energi kini menjelma menjadi kontributor terbesar yang menyumbang sekitar 55% dari total pendapatan Chandra Asri pada kuartal I-2026, melampaui segmen kimia sebesar 42% dan infrastruktur sebesar 3%. Integrasi operasional ini memicu lonjakan kinerja keuangan yang signifikan, di mana perseroan berhasil membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 468 juta dan laba bersih mencapai US$ 205 juta pada kuartal I-2026.
Dari sisi investasi, akuisisi Aster yang dilakukan melalui perusahaan patungan dengan Glencore (CAPGC) dinilai sebagai transaksi yang sangat menguntungkan. Aset tersebut diambil alih dengan nilai sekitar US$ 255 juta, jauh di bawah nilai buku aslinya yang mencapai US$ 933 juta. Selisih ini menghasilkan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang memperkuat struktur permodalan perusahaan sekaligus memperluas rantai nilai bisnis dari hulu ke hilir. Terlebih lagi, Chandra Asri sebelumnya telah merampungkan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso, sehingga kini perusahaan memiliki ekosistem yang terintegrasi penuh mulai dari kilang, petrokimia, hingga jaringan distribusi ritel.
Guna memperkuat pertumbuhan jangka panjang, Chandra Asri juga tengah mengembangkan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai US$ 800 juta di Cilegon bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) yang ditargetkan beroperasi pada 2027. Proyek ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru dengan kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik untuk kebutuhan industri domestik serta 500 ribu ton ethylene dichloride untuk pasar ekspor. Di saat yang sama, bisnis infrastruktur melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang mengelola sektor energi, air, pelabuhan, dan logistik, turut memperkuat ketahanan operasional grup sekaligus menjadi penyeimbang yang stabil di tengah sifat bisnis petrokimia yang siklikal.
Secara fundamental, posisi keuangan Chandra Asri saat ini tercatat jauh lebih kokoh dibandingkan tahun 2024. Total aset perusahaan melonjak drastis dari US$ 5,7 miliar menjadi US$ 12,5 miliar pada kuartal I-2026, dengan ekuitas meningkat ke posisi US$ 4,86 miliar. Perseroan juga mencatatkan margin EBIT yang sehat sebesar 19,5% serta interest coverage ratio di level 6,89 kali. Tren positif ini diperkirakan akan terus berlanjut berkat kuatnya margin kilang di Singapura, di mana ketegangan geopolitik global diprediksi menjaga crack spread tetap berada di atas US$ 10 per barel, atau jauh di atas level historis sebelum konflik yang berada di bawah US$ 5 per barel.
Di pasar modal, daya tarik saham TPIA ikut meningkat seiring dengan kenaikan porsi saham publik (free float) yang kini mencapai 25,7% dari yang sebelumnya hanya sekitar 10%. Perubahan ini terjadi setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan sebagai bagian dari strategi pengurangan utang (deleveraging). Kendati demikian, Nizam menegaskan bahwa penyesuaian tersebut tidak mengubah arah strategis maupun kendali perusahaan, sebab tiga pemegang saham utama, Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil tetap mempertahankan kepemilikan mayoritas sebesar 74,3%. Melalui seluruh kombinasi strategi diversifikasi ini, Chandra Asri Group kini berada dalam posisi yang jauh lebih tangguh untuk menghadapi tantangan pasar global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
TPIA Masuk Jajaran Emiten Papan Atas dengan Free Float 25,7%, Berpotensi Tarik Investor Global
EKONOMIBERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




