Short Selling Masih Jadi Pertanyaan, BEI Bakal Temui MSCI
Jumat, 19 Juni 2026 | 17:46 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bertemu dengan MSCI untuk mengklarifikasi sejumlah catatan dalam MSCI Global Market Accessibility Review 2026. Salah satu poin yang akan dibahas adalah penurunan penilaian pada aspek Information Flow dari positif menjadi negatif.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terpilih periode 2026–2030 Jeffrey Hendrik mengatakan pertemuan dengan MSCI merupakan agenda rutin yang juga akan dimanfaatkan untuk membahas sejumlah hal yang menjadi perhatian dalam laporan terbaru tersebut.
"Setelah ini kami akan melakukan pertemuan lagi untuk melakukan klarifikasi atas beberapa poin yang menjadi concern, misalnya ada informasi yang tidak tersedia dalam bahasa Inggris," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jumat (19/6/2026).
Menurut Jeffrey, BEI perlu mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai informasi yang dimaksud MSCI. Pasalnya, berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini, seluruh laporan keuangan emiten telah diwajibkan disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Ia mengatakan klarifikasi diperlukan untuk mengetahui apakah catatan tersebut hanya berkaitan dengan informasi yang disediakan oleh bursa atau juga mencakup informasi dari emiten, anggota bursa, maupun pelaku lain di lingkungan pasar modal.
"Nah itu informasi yang mana. Apakah yang disediakan oleh bursa saja atau juga yang disediakan oleh pihak lain di lingkungan pasar modal, apakah emiten atau anggota bursa, tentu itu akan kami klarifikasi," ujarnya.
Selain Information Flow, MSCI juga menyoroti aspek short selling di Indonesia. Dalam laporannya, MSCI mencatat praktik short selling telah diperbolehkan, tetapi masih terdapat sejumlah pembatasan.
Menanggapi hal tersebut, Jeffrey menegaskan aktivitas short selling di Indonesia telah memiliki landasan aturan yang jelas. Menurut dia, pembatasan terhadap transaksi tersebut juga diterapkan di banyak bursa dunia, terutama dalam kondisi pasar tertentu.
"Short selling di kita sudah ada aturannya dan pembatasan terhadap short selling juga dilakukan di banyak bursa dengan kondisi pasar seperti ini," ujarnya.
Jeffrey menegaskan berbagai catatan yang disampaikan MSCI merupakan bagian dari proses reformasi pasar modal yang saat ini terus berjalan. Menurutnya, masih terdapat ruang perbaikan yang akan terus ditindaklanjuti oleh BEI bersama para pemangku kepentingan pasar modal.
"Jadi catatan yang disampaikan oleh MSCI, tadi sekali lagi kita sampaikan, bahwa banyak hal-hal positif yang dipertahankan, tetapi ada faktor-faktor yang diperlukan perbaikan, itu yang memang sedang kita lakukan dalam rangkaian reformasi pasar modal ini," kata Jeffrey.
Ke depan, BEI akan terus melakukan perbaikan dari sisi infrastruktur perdagangan, regulasi, dan pengawasan pasar. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus memperkuat integritas pasar modal Indonesia.
Ia menambahkan penguatan pengawasan juga ditujukan untuk meningkatkan penanganan terhadap praktik manipulasi pasar dan coordinated trading yang menjadi salah satu perhatian investor global.
"Yang pasti ke depan kami yakini akan menjadi lebih baik. Reformasi yang dilakukan terus berjalan dan diharapkan membawa transparansi, kredibilitas, serta tata kelola yang lebih baik sehingga meningkatkan kepercayaan investor," tutup Jeffrey.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




