ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI: Laba Bank Tinggi, Bunga Kredit Belum Turun

Kamis, 23 Februari 2012 | 17:55 WIB
IH
B
Gedung Bank Indonesia FOTO :   AFP PHOTO / ROMEO GACAD
Gedung Bank Indonesia FOTO : AFP PHOTO / ROMEO GACAD
Laba bank yang besar menunjukkan upaya kita untuk menurunkan biaya dana belum ditransmisikan seluruhnya terhadap nasabah peminjam

Bank Indonesia (BI) menilai raihan laba bersih perbankan yang bertumbuh cukup tinggi pada 2011 sebagai pertanda bahwa bunga kredit belum turun signifikan. Pencapaian laba tersebut dinilai lebih karena manuver perbankan di pembukuan mereka.
 
Demikian diungkapkan Gubernur BI Darmin Nasution ketika ditemui  seusai memberikan pidato di seminar FEUI "Indonesia Economic Policy in Challenging Global Economy" di Jakarta, hari ini.
 
"Laba bank yang besar menunjukkan upaya kita untuk menurunkan biaya dana (cost of fund) belum ditransmisikan seluruhnya terhadap nasabah peminjam," tutur Darmin.
 
Darmin melihat, bunga kredit belum turun sama cepatnya dengan bunga deposito. Padahal, BI sudah berkali-kali menurunkan suku bunga acuan (BI rate).
 
Sebab itu, Darmin menilai proses untuk mendorong bunga turun masih berjalan. Menurut dia, prosesnya memang tidak mudah sehingga perlu dilakukan secara konsisten.
 
Namun, terdapat manuver bank dalam pembukuan, sehingga laba bank tidak semuanya berasal dari kredit. Salah satu komponen suku bunga kredit, yaitu premi risiko atau pencadangan, menjadi komponen dapat yang diutak-atik.
 
"Dalam proses pembukuan mereka, ada yang namanya premi risiko. Pada akhir tahun, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tidak meningkat, sehingga premi risiko praktis tidak terpakai dan menjadi laba," papar Darmin.
 
Seperti diketahui, dalam suku bunga kredit, terdapat empat komponen, yaitu biaya dana (cost of fund), biaya overhead, profit margin, dan premi risiko. Premi risiko merupakan nilai yang ditentukan bank sebagai pencadangan jika terjadi kredit macet.
 
Pencadangan atau provisi (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif/PPAP) tersebut bisa tidak terpakai jika bank menemukan NPL cenderung rendah. Dengan demikian, nilai provisi bisa diturunkan dan ditempatkan di perolehan laba.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

MULTIMEDIA
Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

NASIONAL
BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

EKONOMI
BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon