Fitch: Profitabilitas Perbankan Bisa Turun
Jumat, 16 Maret 2012 | 11:58 WIB
Namun, prospek (outlook) secara keseluruhan masih stabil di tengah bayang-bayang krisis global yang belum mereda.
Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menilai profitabilitas sektor perbankan Indonesia berpotensi menurun menyusul ketatnya kompetisi suku bunga kredit.
Namun, prospek (outlook) secara keseluruhan masih stabil di tengah bayang-bayang krisis global yang belum mereda.
Direktur Fitch Ratings Indonesia untuk Sektor Keuangan, Julita Wikana mengatakan, stabilnya outlook perbankan ditunjang kuatnya fundamental perekonomian Indonesia dengan pertumbuhan minimal 6 persen.
"Profitabilitas berpotensi turun karena margin bunga bersih (net interest margin/NIM) trennya menurun," kata Julita dalam Fitch Ratings Media Gathering di Jakarta, Kamis (15/3).
Semakin rendahnya suku bunga seiring tingginya kompetisi. Meski demikian, profitabilitas perbankan Indonesia tetap yang tertinggi di antara perbankan ASEAN.
Hal itu ditunjang tren bank yang semakin agresif meningkatkan pendapatan operasional non bunga (non interest income), contohnya pendapatan berbasis komisi (fee based income). Pasalnya, volume transaksi perbankan semakin meningkat.
Julita menjelaskan, dari segi kualitas aset masih cukup baik, karena rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih di bawah 3 persen. Perbankan juga dinilai cukup memberi perhatian soal pencadangan atau provisi guna mengantisipasi kredit bermasalah.
"Tingkat provisi perbankan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata provisi perbankan mencapai 150 persen," kata dia.
Terkait pertumbuhan kredit, Julita memperkirakan kisarannya masih di level 15-20 persen. Namun, dengan kisaran tersebut, perbankan membutuhkan dukungan permodalan yang kuat.
"Dalam dua atau tiga tahun ke depan, masih banyak bank yang menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) ataupun melakukan penawaran umum saham terbatas (rights issue)," pungkas Julita.
Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menilai profitabilitas sektor perbankan Indonesia berpotensi menurun menyusul ketatnya kompetisi suku bunga kredit.
Namun, prospek (outlook) secara keseluruhan masih stabil di tengah bayang-bayang krisis global yang belum mereda.
Direktur Fitch Ratings Indonesia untuk Sektor Keuangan, Julita Wikana mengatakan, stabilnya outlook perbankan ditunjang kuatnya fundamental perekonomian Indonesia dengan pertumbuhan minimal 6 persen.
"Profitabilitas berpotensi turun karena margin bunga bersih (net interest margin/NIM) trennya menurun," kata Julita dalam Fitch Ratings Media Gathering di Jakarta, Kamis (15/3).
Semakin rendahnya suku bunga seiring tingginya kompetisi. Meski demikian, profitabilitas perbankan Indonesia tetap yang tertinggi di antara perbankan ASEAN.
Hal itu ditunjang tren bank yang semakin agresif meningkatkan pendapatan operasional non bunga (non interest income), contohnya pendapatan berbasis komisi (fee based income). Pasalnya, volume transaksi perbankan semakin meningkat.
Julita menjelaskan, dari segi kualitas aset masih cukup baik, karena rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih di bawah 3 persen. Perbankan juga dinilai cukup memberi perhatian soal pencadangan atau provisi guna mengantisipasi kredit bermasalah.
"Tingkat provisi perbankan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata provisi perbankan mencapai 150 persen," kata dia.
Terkait pertumbuhan kredit, Julita memperkirakan kisarannya masih di level 15-20 persen. Namun, dengan kisaran tersebut, perbankan membutuhkan dukungan permodalan yang kuat.
"Dalam dua atau tiga tahun ke depan, masih banyak bank yang menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) ataupun melakukan penawaran umum saham terbatas (rights issue)," pungkas Julita.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




