Partisipasi Masyarakat Mutlak dalam Industri Pengolahan Sagu
Minggu, 13 November 2016 | 12:54 WIB
Jakarta – Upaya meningkatkan nilai tambah dari sagu perlu terus dilakukan di Papua dan Papua Barat. Pendekatan industri harus melibatkan masyarakat adat dan warga sekitar lokasi pengolahan sagu. Patisipasi tersebut agar ada pemahaman bersama, menggerakkan ekonomi masyarakat dan sekaligus mencegah persoalan yang muncul belakangan.
Menurut General Manager Wilayah Papua-Perum Perhutani Ronald G Suitela, optimalisasi potensi sagu menyimpan peluang yang sangat besar dalam menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, manfaat itu akan dirasakan jika industrialisasi sagu melibatkan masyarakat lokal, terutama di sekitar lokasi pengembangan sagu tersebut.
Dia menekankan, pendekatan sosial dan partisipasi masyarakat itu menjadi sangat penting sebelum industri pengolahan sagu beroperasi. "Pemberdayaan masyarakat adat dilakukan sejak awal sehingga ada ruang partisipasi pada tahap selanjutnya. Ini juga mencegah persoalan yang bakal muncul karena belum ada pemahaman dari warga lokal," kata Ronald baru-baru ini.
Seperti diketahui, pada 1 Januari 2016 lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik sagu milik Perum Perhutani di Distrik Kais, Sorong Selatan, Papua Barat. Selama ini, masyarakat petani sagu tradisional Papua hanya sanggup mengolah satu batang sagu selama dua minggu karena belum ada alat pengolah. Padahal, potensi sagu dan olahannya sangat besar sebagai alternatif sumber pangan, energi dan bahan baku industri di dalam negeri.
Ronald menjelaskan ada sejumlah upaya yang dilakukan Perum Perhutani untuk meningkatkan partisipasi warga, salah satunya adalah membentuk lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) di Distrik Kais, Sorong Selatan. Dalam LMDH ini, berbagai aktivitas dilakukan secara bersama dari, oleh, dan untuk masyarakat untuk mendukung pabrik sagu.
Mantan Bupati Sorong Selatan (Sorsel) Otto Ihalauw mengatakan pemberdayaan masyarakat merupakan hal yang paling utama sebelum aktivitas pengolahan berlangsung. Selain masyarakat desa, tenaga profesional juga perlu disiapkan agar memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri nanti.
"Untuk itulah kami mendirikan Akademi Komunitas Negeri Sorong Selatan dengan konsentrasi terbesar pada berbagai hal terkait sagu," kata Otto yang juga salah satu pengurus Ketua Masyarakat Sagu Indonesia (Massi) ini.
Sejauh ini, lulusan dari akademi tersebut langsung terserap di beberapa industri pengolahan sagu di Papua dan Papua Barat. Dalam jangka panjang, para lulusan tersebut diharapkan bisa menjadi wirausaha dengan fokus pada produk berbasis sagu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




