ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pelemahan Rupiah Perlu Diwaspadai, Namun Tak Perlu Dikhawatirkan Berlebihan

Senin, 10 September 2018 | 16:43 WIB
B
WP
Penulis: BeritaSatu | Editor: WBP
Ilustrasi Rupiah
Ilustrasi Rupiah (Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta - Pemerintah menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang pekan lalu hampir menyentuh Rp 15.000 per dolar AS, memang perlu diwaspadai, tapi tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

"Depresiasi (pelemahan) peso Argentina mencapai 49,62 persen, depresiasi lira Turki 40,7 persen, sedangkan depresiasi rupiah year to date 8,5 persen. Menurut saya, ini hanya ketakutan berlebihan, tapi harus waspada, iya," kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir dalam diskusi "Bersatu untuk Rupiah" di Jakarta, Senin (10/9).

Iskandar menuturkan, fundamental perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan Turki dan Argentina, terutama inflasi yang terkendali di level 3-4 persen dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi dari Januari hingga Agustus 2018 hanya mencapai 2,13 persen. "Kita baru khawatir kalau inflasi tinggi. Kekhawatiran fundamental kita itu rapuh, tidak pas," ujar Iskandar.

Soal defisit neraca transaksi berjalan sebesar US$ 8 miliar atau 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2018 atau lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2018, dia berpendapat, hal itu masih dalam batas aman yaitu 3 persen dari PDB.

ADVERTISEMENT

Menurut Iskandar, setiap kuartal kedua, defisit neraca transaksi berjalan, memang cenderung tinggi seperti pada kuartal II 2014 yang mencapai 4,24 persen. "Pada kuartal kedua 2018 kan banyak repatriasi keuntungan, makanya neraca pendapatan primer kita defisit cukup besar. Tapi, current account deficit 3,04 persen itu bukan kiamat, bukan merupakan suatu krisis," kata Iskandar.

Walaupun pada kuartal kedua 2018 defisit transaksi berjalan sudah mencapai batas maksimal yang dianggap aman yaitu 3 persen, namun jika dihitung per semester I-2018, defisit transaksi berjalan sebenarnya baru mencapai 2,6 persen dari PDB.

Kendati demikian, Iskandar mengakui defisit neraca perdagangan Indonesia perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia melakukan berbagai upaya strategis untuk mengurangi impor dan meningkatkan ekspor.

"Kondisi global yang penuh ketidakpastian ini berpengaruh ke negara kita. Tapi, kita perlu waspada, juga karena neraca dagang kita memang negatif. Kalau defisit transaksi berjalan memang sudah biasa, setiap kuartal kedua selalu defisitnya besar. Tapi defisit neraca perdagangan US$ 3,1 miliar di tengah ketidakpastian ini memang harus kita tangani," kata Iskandar.

Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah pada Senin mencapai Rp 14.835 per dolar AS, menguat dibandingkan hari akhir pekan lalu Jumat (7/9) Rp 14.884 per dolar AS.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Harga Rumah Sekunder Tetap Naik meski Rupiah Masih Melemah

Harga Rumah Sekunder Tetap Naik meski Rupiah Masih Melemah

EKONOMI
Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

EKONOMI
Rupiah Melemah, Biaya Produksi Membengkak Hingga Subsidi APBN Tertekan

Rupiah Melemah, Biaya Produksi Membengkak Hingga Subsidi APBN Tertekan

MULTIMEDIA
Apindo: Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata ke Dunia Usaha

Apindo: Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata ke Dunia Usaha

EKONOMI
BI Sebut Pelemahan Rupiah Sejalan dengan Negara Emerging Market

BI Sebut Pelemahan Rupiah Sejalan dengan Negara Emerging Market

EKONOMI
Rupiah Senin 9 Maret Rontok 24 Poin ke Rp 16.949 Imbas Harga Minyak

Rupiah Senin 9 Maret Rontok 24 Poin ke Rp 16.949 Imbas Harga Minyak

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon