Menghitung Pangsa Pasar Grab di Indonesia

Menghitung Pangsa Pasar Grab di Indonesia
Layanan Grab sudah hadir dari Aceh hingga Papua ( Foto: Ist )
Heru Andriyanto / AB Selasa, 11 September 2018 | 08:05 WIB

Jakarta - Baru-baru ini Kodrat Wibowo, salah seorang komisioner Komisi Pengawas Persaingan usaha (KPPU), menyatakan bahwa pangsa pasar Grab pada April 2018 sebesar 20 persen. Namun, menurut riset yang dilakukan ABI Research, perusahaan riset global, Grab sudah menguasai pangsa pasar transportasi online pada semester I 2018 mengalahkan Go-Jek. Menurut ABI, pangsa pasar Grab sudah mencapai 62 persen sampai akhir Juni 2018.

Perbedaan yang cukup besar ini tentunya mengundang tanda tanya. Apalagi Grab juga melakukan ekspansi besar-besaran dari awalnya 12 kota menjadi 137 kota di Indonesia selama 2017-2018, serta mengakuisisi Uber pada Maret 2018. Dengan eksistensi di 137 kota, Grab menjadi penyedia layanan antaran penumpang (ride-hailing) dengan cakupan terluas di Indonesia.

Menanggapi hal ini, Kodrat menyatakan bahwa disparitas yang terjadi hanya masalah perbedaan skop perhitungan.

"Saya kira ya ... akan hampir berimbang kalo yang dihitung hanya ride-hailing saja," kata Kodrat.

Menurut laporan ABI Research yang dirilis pada 4 September, Grab telah membangun dominasi pasar di Indonesia dihitung dari jumlah perjalanan, setelah melakukan ekspansi dan mengakuisisi Uber.

"Riset kami menunjukkan bahwa pada awal 2017, Grab hanya memiliki pangsa 30 persen di pasar transportasi online Indonesia, sementara rivalnya Go-Jek memimpin dengan pangsa pasar 58 persen. Pada akhir Juni 2018, Grab bisa membalikkan keadaan dan menguasai 62 persen pangsa pasar transportasi online sebagai hasil nyata dari investasi dan ekspansi yang agresif di Indonesia sepanjang 2017, dan makin terbantu oleh akuisisi bisnis Uber di kawasan itu pada 2018," kata Shiv Patel, analis penelitian di ABI Research.

Angka tersebut tidak jauh berbeda dari angka pangsa pasar yang diberikan oleh Managing Director Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, yaitu 65 persen.

Kodrat mengaku sudah membaca kesimpulan riset ABI dan walaupun belum melihat metodologinya, dia cukup yakin bahwa pangsa pasar Grab bisa mencapai 60 persen setidaknya per Juli 2018.

Indonesia merupakan pasar transportasi online terbesar di Asia Tenggara dan keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Setelah memenangi pertarungan di transportasi online, Grab semakin aktif meluncurkan program-program untuk pelanggan. Yang terbaru adalah layanan antaran belanja dengan program GrabFresh yang membantu konsumen, sehingga tidak perlu pergi ke supermarket.

Selain itu, layanan GrabFood sudah tersedia di 30 kota. Bulan lalu, Grab meluncurkan Grab Ventures dengan investasi senilai Rp 3 triliun (US$ 250 juta) bagi para perusahaan rintisan atau startup di Tanah Air.

Grab Ventures juga mengumumkan Grab Ventures Velocity, program yang khusus bertujuan untuk mendukung startup-startup yang sedang berkembang lebih lanjut (scale-up).



Sumber: BeritaSatu.com