Pemerintah Fokus Ciptakan Iklim Investasi Kondusif
Minggu, 25 November 2018 | 22:02 WIBJakarta - Pemerintah saat ini fokus menciptakan iklim investasi yang kondusif, terutama untuk sektor industri. Langkah strategis yang sudah dilakukan antara lain melalui paket-paket kebijakan ekonomi, insentif dan kemudahan izin usaha.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ngakan Timur Antara menerangkan, upaya tersebut diyakini dapat mengakselerasi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional yang inklusif dan berkualitas. Hal ini membuat pemerintah berkomitmen melakukan transformasi ekonomi, yang menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi berbasis manufaktur. "Dengan demikian, ekonomi kita lebih produktif dan memberikan multiplier effect yang lebih luas," ujar dia di Jakarta, Minggu (25/11).
Oleh sebab itu, dia menerangkan, Kemenperin konsisten menjalankan program hilirisasi industri, dengan upaya pengembangan industri pengolahan nonmigas yang menitikberatkan pada pendekatan rantai pasok agar lebih berdaya saing di tingkat domestik, regional, dan global. "Pengembangan industri manufaktur nonmigas diprioritaskan pada sektor yang berbasis sumber daya alam dan menyerap lapangan kerja yang banyak," kata Ngakan.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kuartal III-2018, industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar dalam struktur produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 19,66%. "Kontribusi itu cukup besar, sehingga Indonesia masuk dalam jajaran elit dunia sebagai negara industri," ungkap Ngakan.
Menurut laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menempati peringkat sembilan dunia sebagai negara penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri. Selain itu, demikian Ngakan, dilihat dari persentase kontribusi industri, Indonesia masuk dalam jajaran empat besar dunia. "Apabila dinilai dari indeks daya saing global, yang saat ini diperkenalkan metode baru dengan indikator penerapan revolusi industri 4.0, peringkat Indonesia naik dari posisi 47 pada tahun 2017 menjadi level ke-45 di 2018," paparnya.
Sedangkan, hasil survei Nikkei dan IHS Markit menujukkan bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2018 berada di level 50,5 atau masih tergolong dalam tingkat ekspansif. Bahkan, Indonesia berhasil menduduki peringkat ketiga teratas di ASEAN. Posisi Indonesia lebih baik dari Malaysia (49,2), Thailand (48,9), Myanmar (48,0) dan Singapura (43,3).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




