ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pemerintah Perlu Siapkan Program Peningkatan Ekspor

Senin, 26 November 2018 | 21:56 WIB
HK
B
Penulis: Harso Kurniawan | Editor: B1
Kapal pengangkut peti kemas.
Kapal pengangkut peti kemas. (Antara)

Jakarta - Pemerintah perlu segera menyiapkan program jangka pendek maupun jangka panjang untuk meningkatkan ekspor produk barang dan jasa.

Peningkatan ekspor barang dan jasa dapat mencegah terjadinya defisit transaksi berjalan, menciptakan lapangan pekerjaan, sekaligus menambah cadangan devisa negara. Hal ini akan membawa kemajuan ekonomi nasional.

Program peningkatan ekspor sebaiknya jangan hanya jangka pendek, melainkan juga jangka panjang. Selain itu, pemerintah harus sungguh-sungguh melakukan pengendalian impor.

Hal tersebut mengemuka dalam acara diskusi bertema "Mendorong Keseriusan Pemerintah Meningkatkan Ekspor untuk Indonesia yang Lebih Baik," yang diadakan Public Trust Institut, di Jakarta, Minggu (25/11).

ADVERTISEMENT

Hadir sebagai pembicara dosen Laboratorium Statistik P3M Universitas Indonesia (UI) Andy Azisi Amin dan dosen Kebijakan Publik Administrasi Bisnis Institut STIAMI Eman Sulaeman Nasim. Acara yang dihadiri mahasiswa dan dosen-dosen dari Institut STIAMI dan Universitas Nasional Jakarta ini dipandu oleh pendiri sekaligus Direktur Public Trust Institut, Indonesia Hilmi Rahman Ibrahim.
"Kita ini negara yang populasinya nomor empat dunia, setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. Kalau transaksi berjalan terus mengalami defisit, itu berarti lebih banyak impor. Jika kita dapat melakukan program peningkatan ekspor berarti kita dapat membuat program peningkatan nilai tambah apapun yang dihasilkan oleh tenaga kerja kita di dalam negeri," papar Andy Azisi Amin.

Lebih lanjut direktur Salemba Real Estate Institut ini memaparkan, defisit transaksi berjalan kuartal III-2018 membengkak menjadi US$ 8,8 miliar atau 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). Kecenderungan ini mengkhawatirkan dan menjadi yang tertinggi setelah kuartal II-2014 sebesar US$ 9,5 miliar atau 4,26% dari PDB kita.

"Defisit neraca jasa yang persisten mengindikasikan lemahnya jasa transportasi domestik dalam melayani kebutuhan perdagangan luar negeri. Adapun tren penurunan kinerja ekspor dan komposisi ekspor yang terus didominasi komoditas, mencerminkan lemahnya pendalaman struktur industri nasional, bahkan telah terlihat tanda-tanda deindustrialisasi yang jelas,"papar dia.

Eman Sulaeman Nasim mendukung program pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang akan mengubah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan dengan cara meningkatkan ekspor yang harus lebih besar dari pada impor. Agar nilai ekspor lebih besar, akan dilakukan upaya menyiapkan produk-produk yang berkualitas termasuk dari sisi desain dan kemasan, serta diversifikasi pasar. Namun program Presiden tersebut tidak cukup hanya diucapkan presiden namun harus diimplementasikan oleh jajaran dibawahnya.

"Namun, implementasi di lapangan, sering kali jauh dari kenyataan," papar Eman Sulaeman Nasim.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pemerintah Tak Larang Nobar Film Pesta Babi

Pemerintah Tak Larang Nobar Film Pesta Babi

NASIONAL
Izin Beres 2 Tahun, Prabowo Minta Satgas Khusus Percepat Deregulasi

Izin Beres 2 Tahun, Prabowo Minta Satgas Khusus Percepat Deregulasi

EKONOMI
Rekomendasi Reformasi Polri Dinilai Tersendat, Ada Apa?

Rekomendasi Reformasi Polri Dinilai Tersendat, Ada Apa?

NASIONAL
RUU Pemilu Belum Final, Yusril: Tunggu Draf DPR Rampung

RUU Pemilu Belum Final, Yusril: Tunggu Draf DPR Rampung

NASIONAL
3 Prajurit Gugur, Puan Minta Evaluasi Penugasan TNI

3 Prajurit Gugur, Puan Minta Evaluasi Penugasan TNI

NASIONAL
Bayang-bayang Global Menguji Ketahanan Fiskal APBN

Bayang-bayang Global Menguji Ketahanan Fiskal APBN

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon