ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Penjualan Kayu Terkena Dampak Krisis Eropa

Selasa, 12 Juni 2012 | 19:59 WIB
IH
B
Seorang pekerja melakukan aktifitas dengan  membawa kayu jati di sebuah tempat pengolahan di Yangon, Myanmar. FOTO: BARBARA WALTON
Seorang pekerja melakukan aktifitas dengan membawa kayu jati di sebuah tempat pengolahan di Yangon, Myanmar. FOTO: BARBARA WALTON
Akibat krisis, perusahaan di Eropa tidak membeli lebih

Kinerja keuangan Perum Perhutani berpotensi tertekan akibat rendahnya permintaan kayu gondorukem yang merupakan dampak dari krisis Eropa.
 
Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto menuturkan, hingga semester I tahun ini, pihaknya mampu memenuhi target produksi kayu gondorukem tetapi sulit memasarkan. Akibatnya, saat ini pihaknya masih memiliki 20 ribu ton gondorukem.

"Akibat krisis, perusahaan di Eropa tidak membeli lebih," kata Bambang usai penandatangan nota kesepahaman dengan Kejakasaan Agung di Jakarta, hari ini.
 
Dibanding sebelum krisis, saat ini industri di Eropa membeli hanya sesuai kebutuhaan sehingga tidak melakukan stok. Hal itu yang menyebabkan stok di Perhutani menumpuk. "Kalau butuh 10 ribu, ya 10 ribu yang dibeli. Mereka tidak mau nyetok," ujar dia.
 
Dia mengakui, tahun ini memang berat karena hingga awal Juni tahun ini, BUMN kehutanan itu baru merealisasikan 35% dari total target pendapatan 2012 yang mencapai Rp3,7 triliun. Angka itu lebih tinggi dibanding  realisasi 2011 Rp3,1 triliun.
 
Selain penyerapan pasar rendah, lanjut dia, kinerja keuangan perusahaan juga tertekan akibat harga gondorukem yang rendah. Saat ini, harga gondorukem di pasar ekspor US$1.320-US$1.400 per ton. Perhutani juga harus bersaing dengan produk sejenis asal Cina seharga $1.470 per ton. Produksi gondorukem Perhutani sebanyak 90 ribu ton per tahun.
 
Bambang menjelaskan, harga tersebut merupakan harga stok lama. Sedangkan harga produk baru lebih tinggi. Hal itu dimaksudkan agar stok lama bisa segera terjual agar jangan sampai rusak. "Stok 2011 saja masih ada," kata dia.
 
Pihaknya sudah berupaya berupaya melelang gondorukem ke sejumlah negara, tetapi belum mendapat harga yang bagus. Salah satunya adalah Jepang, yang justru meminta harga lebih rendah ketimbang harga patokan Perhutani.
 
Menurut dia, perusahaan pelat merah itu telah menempuh beberapa upaya untuk mendongkrak kinerjanya. Diantaranya adalah membangun industri pengolahan gondorukem di Pemalang, Jawa Tengah. Hal itu agar pihaknya tidak tergantung denganpasar ekspor, yang seringkali harganya berfluktuatif sehingga berdampak kepada kinerja perusahaan. Selain itu, pihaknya juga melakukan efisiensi pengeluaran yang tidak perlu.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon