ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pemerintah Harus Kerja Keras Capai Target Ekspor 2019

Senin, 18 Maret 2019 | 23:04 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Ilustrasi ekspor-impor.
Ilustrasi ekspor-impor. (Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah dinilai harus bekerja keras untuk mewujudkan target ekspor nonmigas sebesar US$ 175 miliar pada tahun 2019. Di tengah dinamika ekonomi dan tantangan dari dalam dan luar negeri, target ekspor yang dipatok naik 7,5% dibanding tahun sebelumnya tersebut, dirasa cukup berat untuk diwujudkan.

"Target dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) cukup berat. Selain itu, setelah pemilu tidak ada yang bisa menebak situasinya seperti apa. Ini yang bisa menyebabkan kekhawatiran ekspor pada tahun ini, jadi kalau mau capai target memang harus usaha keras," kata Ekonom Insitute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus kepada Investor Daily di Jakarta, pada akhir pekan lalu.

Untuk mengakselerasi kinerja ekspor, menurut Heri, pemerintah harus memperluas pasar dengan merealisasikan kerja sama bilateral. Walau begitu, pemerintah juga harus tetap waspada untuk tidak memasukkan produk-produk Indonesia yang belum punya daya saing.

"Sebab, nanti kita bisa kebanjiran impor. Jadi FTA ini bisa menjadi peluang atau ancaman, tergantung bagaimana kesiapan kita," kata dia.

ADVERTISEMENT

Afrika, tambah dia, bisa menjadi pasar nontradsional yang berpotensi untuk pengembangan ekspor Indonesia. Sebab, banyak negara di Afrika yang statusnya negara sedang berkembang.

"Dalam status seperti itu, masyarakatnya butuh barang-barang sandang seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian. Itu semua bisa diproduksi di Indonesia, sehingga menjadi peluang kita. Tetapi, kita harus mengetahui selera di sana seperti apa agar bisa meningkatkan pasar ke Afrika," ujar dia.

Hanya saja, menurut Heri, tidak cuma Indonesia yang mengincar pasar Afrika, negara lain juga memiliki ketertarikan serupa. Bahkan, Tiongkok lebih agresif masuk ke Afrika dan membangun infrastruktur di sana untuk mengambil hatinya orang Afrika agar mereka mau membeli barang dari Tiongkok.

"Ini tantangan kita. Jadi, kita jangan terlambat dari kompetitor, karena yang cari pasar di sana bukan Indonesia saja. Supaya memenangkan persaingan, kita harus membuat produk yang punya nilai tambah dan daya saing," kata Heri.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pemerintah Tak Larang Nobar Film Pesta Babi

Pemerintah Tak Larang Nobar Film Pesta Babi

NASIONAL
Izin Beres 2 Tahun, Prabowo Minta Satgas Khusus Percepat Deregulasi

Izin Beres 2 Tahun, Prabowo Minta Satgas Khusus Percepat Deregulasi

EKONOMI
Rekomendasi Reformasi Polri Dinilai Tersendat, Ada Apa?

Rekomendasi Reformasi Polri Dinilai Tersendat, Ada Apa?

NASIONAL
RUU Pemilu Belum Final, Yusril: Tunggu Draf DPR Rampung

RUU Pemilu Belum Final, Yusril: Tunggu Draf DPR Rampung

NASIONAL
3 Prajurit Gugur, Puan Minta Evaluasi Penugasan TNI

3 Prajurit Gugur, Puan Minta Evaluasi Penugasan TNI

NASIONAL
Bayang-bayang Global Menguji Ketahanan Fiskal APBN

Bayang-bayang Global Menguji Ketahanan Fiskal APBN

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon