Semester I, Konsumsi Semen Capai 26 Juta Ton
Selasa, 19 Juni 2012 | 00:20 WIB
Hingga 55% konsumsi semen masih terpusat di Jawa, sekitar 23% di Sumatera, dan 22% sisanya terbagi atas pulau-pulau di kawasan Timur Indonesia.
Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memperkirakan konsumsi semen nasional sepanjang semester I tahun 2012 mencapai 26 juta ton. Untuk sepanjang tahun 2012, ASI optimistis konsumsi semen nasional mampu menembus 54 juta ton. Atau, naik 12% dari tahun 2012 yang mencapai 48 juta ton.
Sementara itu, ASI mencatat, sepanjang Januari-Mei 2012, konsumsi semen nasional naik 13,8% dibandingkan periode sama tahun 2011 yang tercatat 18,91 juta ton menjadi 21,52 juta ton.
“Hingga Mei 2012, konsumsi mencapai 21,52 juta ton. Untuk sepanjang semester I ini, setidaknya bisa menembus 26 juta ton. Artinya, Juni ini saja setidaknya bisa 5 juta ton. Semester I ini tumbuh 14% dibandingkan semester I tahun 2011. Pendorong pertumbuhan masih di sektor perumahan. Kredit perumahan, fasilitas Kredit Perumahan Rakyat, masih tergolong menarik untuk memacu pembangunan properti residensial,” kata Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Widodo Santoso, usai pembukaan Cemtech Asia 2012 Conference di Jakarta, Senin (18/6).
Widodo menjelaskan, konsumsi semen untuk semester I biasanya mewakili sekitar 48%-49% dari total sepanjang tahun. Sedangkan, 51%-52% sisanya berasal dari konsumsi semester II.
“Untuk semester II, konsumsi setidaknya masih bisa tumbuh minimal 14%-15%. Meski, antisipasi juga karena ada momen Puasa dan libur di semester II. Tapi, saya lihat sepertinya bagus. Sampai akhir tahun, minimal 54 juta ton bisa dicapai,” papar Widodo.
Secara wilayah, Widodo menambahkan, kawasan Indonesia Timur menunjukkan lonjakan permintaan yang signifikan. Namun, lanjut dia, jika berdasarkan konsumsi, kawasan Timur masih lebih rendah dibandingkan Jawa dan Sumatera. Menurut dia, hingga 55% konsumsi semen masih terpusat di Jawa, sekitar 23% di Sumatera, dan 22% sisanya terbagi atas pulau-pulau di kawasan Timur Indonesia.
“Konsumsi di pulau Jawa masih terbesar. Kalau pun mislanya hanya tumbuh 7%, tapi dampaknya besar. Sedangkan, di luar pulau Jawa, terutama kawasan Timur Indonesia, pertumbuhannya memang bisa 30% tapi basis konsumsinya masih rendah. Jadi, bisa dibilang pertumbuhan merata di seluruh Indonesia, meski besaran kenaikannya berbeda,” jelas dia.
Mengenai harga, Widodo memastikan, tidak ada kenaikan. Pasalnya, kata dia, stok produksi yang ada di pasar masih aman. Dengan demikian, kata Widodo, tidak ada peluang spekulasi menaikkan harga. “Harga tetap, tidak ada kenaikan. Kan stoknya aman. Jadi, tidak ada spekulasi. Harga bisa naik kalo stok barangnya tidak ada,” tandas dia.
Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memperkirakan konsumsi semen nasional sepanjang semester I tahun 2012 mencapai 26 juta ton. Untuk sepanjang tahun 2012, ASI optimistis konsumsi semen nasional mampu menembus 54 juta ton. Atau, naik 12% dari tahun 2012 yang mencapai 48 juta ton.
Sementara itu, ASI mencatat, sepanjang Januari-Mei 2012, konsumsi semen nasional naik 13,8% dibandingkan periode sama tahun 2011 yang tercatat 18,91 juta ton menjadi 21,52 juta ton.
“Hingga Mei 2012, konsumsi mencapai 21,52 juta ton. Untuk sepanjang semester I ini, setidaknya bisa menembus 26 juta ton. Artinya, Juni ini saja setidaknya bisa 5 juta ton. Semester I ini tumbuh 14% dibandingkan semester I tahun 2011. Pendorong pertumbuhan masih di sektor perumahan. Kredit perumahan, fasilitas Kredit Perumahan Rakyat, masih tergolong menarik untuk memacu pembangunan properti residensial,” kata Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Widodo Santoso, usai pembukaan Cemtech Asia 2012 Conference di Jakarta, Senin (18/6).
Widodo menjelaskan, konsumsi semen untuk semester I biasanya mewakili sekitar 48%-49% dari total sepanjang tahun. Sedangkan, 51%-52% sisanya berasal dari konsumsi semester II.
“Untuk semester II, konsumsi setidaknya masih bisa tumbuh minimal 14%-15%. Meski, antisipasi juga karena ada momen Puasa dan libur di semester II. Tapi, saya lihat sepertinya bagus. Sampai akhir tahun, minimal 54 juta ton bisa dicapai,” papar Widodo.
Secara wilayah, Widodo menambahkan, kawasan Indonesia Timur menunjukkan lonjakan permintaan yang signifikan. Namun, lanjut dia, jika berdasarkan konsumsi, kawasan Timur masih lebih rendah dibandingkan Jawa dan Sumatera. Menurut dia, hingga 55% konsumsi semen masih terpusat di Jawa, sekitar 23% di Sumatera, dan 22% sisanya terbagi atas pulau-pulau di kawasan Timur Indonesia.
“Konsumsi di pulau Jawa masih terbesar. Kalau pun mislanya hanya tumbuh 7%, tapi dampaknya besar. Sedangkan, di luar pulau Jawa, terutama kawasan Timur Indonesia, pertumbuhannya memang bisa 30% tapi basis konsumsinya masih rendah. Jadi, bisa dibilang pertumbuhan merata di seluruh Indonesia, meski besaran kenaikannya berbeda,” jelas dia.
Mengenai harga, Widodo memastikan, tidak ada kenaikan. Pasalnya, kata dia, stok produksi yang ada di pasar masih aman. Dengan demikian, kata Widodo, tidak ada peluang spekulasi menaikkan harga. “Harga tetap, tidak ada kenaikan. Kan stoknya aman. Jadi, tidak ada spekulasi. Harga bisa naik kalo stok barangnya tidak ada,” tandas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




