Pertumbuhan Kredit dan Penurunan Bunga Masih Jadi Tantangan BI
Minggu, 31 Januari 2021 | 05:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) mengakui di tahun in, masih memiliki tantangan dari sektor perbankan yakni belum optimalnya penyaluran kredit ke sektor riil, meskipun likuiditas sudah berlimpah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan bahwa bank saat ini belum menyalurkan kredit, karena masih melihat risiko tinggi. Di sisi lain, sektor dunia usaha juga masih ragu-ragu melakukan ekspansi karena prospek ekonomi ke depan masih suram.
"Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah, BI, dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) bagaimana mendorong sektor keuangan khususunya memberi confidence dari sisi permintaan, korporasi, UMKM, konsumen rumah tangga sehingga kembali beraktivitas, jadi ada permintaaan kredit dan penuhi suplai dana kredit ada perbaikan," tutur Destry dalam acara Forum Diskusi Salemba 46, Outlook Perekonomian Indonesia 2021 Jakarta, Sabtu (30/1/2021).
Destry mengatakan perbankan masih ragu menurunkan bunga kredit disebabkan lemahnya permintaan masyarakat sejalan aktivitas yang belum pulih. Sementara dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) cenderung meningkat hingga posisi Desember 2020 mencapai 11,11%. Hal ini berbanding terbalik dengan laju kredit tahun lalu yang tercatat turun 2,41% secara year on year.
"Tantangan sektor perbankan dengan kondisi seperti ini maka consumer cenderung menabung inside of spending dan tercermin kenaikan DPK meningkat pesat 11,11% di akhir tahun 2020. Penurunan bunga kredit jadi tantangan kita, bahwa satu sisi memang bank melihat risiko ke depan masih tinggi, sementara dilihat DPK tumbuh tinggi dan penerima kredit juga berkurang, jadi ini nanti dibutuhkan satu keseimbangan," tuturnya.
Kendati begitu Destry optimistis ke depan, perbankan masih bisa menurunkan suku bunga kredit, melihat dari sisi likuiditas masih longgar. Selain itu, dukungan suku bunga acuan Bank Indonesia atau (BI 7DRR) yang tercatat rendah di level 3,75%.
"Tren penurunan bunga kredit terus alami penurunan. Kredit modal kerja, kemudian kredit investasi, dan konsumsi sudah turun signifikan 200 bps, sekitar itu, tapi memang belum full. BI rate kan (turun) dari 6% ke 3,75% sekitar 225 bps at least tren mulai mengarah kesana"pungkas Destry.
Adapun sepanjang tahun 2020, BI telah melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing di perbankan sebesar Rp 726,57 triliun atau setara dengan 4,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kemudian hingga 19 Januari 2021, BI juga telah melakukan QE ke perbankan sebesar Rp 7,44 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




