ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bunga Kredit Sudah Rendah, Pengusaha Masih Menahan Diri

Jumat, 5 Februari 2021 | 12:28 WIB
SL
AO
Penulis: Sri Rejeki Listyorini | Editor: AO
Ilustrasi Bank Indonesia
Ilustrasi Bank Indonesia (The Jakarta Globe)

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuannya (BI 7- DRR) ke level 3,75%, terendah dalam sejarah, dengan tujuan mendorong ekonomi yang terdampak pandemi Covid-19. Namun, penurunan suku bunga tersebut tidak berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan kredit.

"Ekspansi kredit masih lemah karena pelaku usaha menahan diri di tengah permintaan pasar yang belum kuat. Suku bunga kredit bank sebenarnya sudah rendah, tapi pengusaha tidak mau ambil kredit," kata ekonom, Ryan Kiryanto kepada Beritasatu.com, Jumat (5/2/2021).

Menurut Ryan, sebagian debitor malah melunasi pinjamannya karena produksi menyusut dipicu permintaan konsumen yang lemah. "Langkah untuk mencegah penyebaran virus corona yang membatasi kegiatan masyarakat membuat permintaan konsumsi tidak terdongkrak," katanya.

Hal itu bisa dilihat dari laju inflasi yang rendah, masih di bawah target, karena permintaan konsumen yang belum bangkit meskipun program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan bantuan sosial (bansos) sudah digulirkan.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, penyesuaian suku bunga kredit cenderung lambat karena risiko kredit cenderung meningkat di masa pandemi, terutama karena adanya penurunan aktivitas ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran.

Kondisi likuiditas perbankan cenderung longgar dimana rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) cenderung tinggi yakni 31,67% pada Des’20, sementara suku bunga PUAB O/N turun sekitar 184 bps sepanjang tahun 2020.

Senada dengan Ryan, menurut Josua penurunan suku bunga kredit secara umum bukan merupakan faktor utama pendorong pertumbuhan kredit, karena kebutuhan untuk pembiyaan relatif rendah. Hal ini karena produktivitas usaha baik dari sisi produksi dan konsumsi juga masih lemah di tengah pandemi Covid-19.

Kelebihan Likuditas
Lebih lanjut Ryan mengatakan, sektor riil belum mampu merespons penurunan suku bunga. Ketidakseimbangan di pasar keuangan ini mengakibatkan adanya ekses penawaran uang atau sering disebut sebagai kelebihan likuiditas.

Stimulus fiskal, kata dia, menjadi faktor kunci pemulihan ekonomi. Melalui anggaran PEN bidang ekonomi dan sosial (bansos dan sejenisnya), percepatan serapan belanja pemerintah (K/L), bansos padat karya tunai, sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja, menciptakan penghasilan dan meningkatkan konsumsi rumah tangga (KRT).

"Selama ini KRT anjlok karena pemilik dana enggan ke luar rumah, takut terpapar Covid," ujarnya. Di sisi lain, dampak pandemi menyebabkan PHK massal sehingga banyak yang tidak punya dana lagi.

"Jadi saat ini fiscal policy ada di garda depan, disusul monetary and financial policy," tambahnya. Ryan mengutip saran Dana Moneter Internasional (IMF), "Now fiscal policy has to do first rather than monetary and financial policy".

Ryan mengatakan, rendahnya penyerapan kredit menyebabkan tingginya penempatan dana di Surat Berharga Negara (SBN). Kepemilikan bank di SBN per 1 Februari 2021 tembus Rp 1.506,67 triliun atau 37,93% dari total outstanding SBN senilai Rp 3.972 triliun.

Angka kepemilikan bank di SBN naik 9,5% dari posisi akhir 2020. Sedangkan dibandingkan posisi akhir 2019 dan akhir 2018 masing-masing melonjak 159% dan 213%. Ryan memahami lonjakan SBN yang berasal dari dana bank karena jika tidak ditempatkan di SBN, bank harus menanggung biaya dari dana-dana masyarakat yang mengendap di perbankan.

Menurut dia, salah satu bank yang dianggap berhasil mendorong pertumbuhan kreditnya adalah BRI, di mana penyaluran total kredit BRI telah mencapai Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89% sepanjang tahun 2020. Yang menggembirakan, kredit mikro BRI mampu tumbuh double digit sebesar 14,18%. Angka tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional tahun 2020 yang diperkirakan OJK berada dikisaran minus 1 hingga 2%.

Terobosan
Josua Pardede mengatakan, di tengah rendahnya permintaan uang , yang diindikasikan oleh tingkat permintaan kredit perbankan yang sangat rendah, perlu dibuat kebijakan terobosan.

"Sebaiknya segera dirangsang dengan kebijakan-kebijakan perkreditan yang tidak biasa. Penciptaan skim-skim perkreditan yang baru, kemudahan syarat-syarat pemberian kredit, insentif fiskal bagi para pemohon kredit, dan lainnya agar pasar keuangan berada pada kondisi keseimbangan sesuai dengan rezim suku bunga rendah yang ditetapkan oleh BI," katanya.

Menurut dia, jika hal itu dilakukan, sektor riil akan kembali bergairah, output perekonomian perlahan-lahan akan meningkat menuju kepada tingkat output alamiahnya. Kenaikan output perekonomian secara perlahan-lahan akan meningkatkan penyerapan kerja dan pemulihan daya beli,kata dia, sehingga inflasi akan meningkat seiring dengan pemulihan daya beli.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Prabowo Perintahkan Bunga Kredit Prasejahtera di Bawah 9 Persen

Prabowo Perintahkan Bunga Kredit Prasejahtera di Bawah 9 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon