Komisi XI: Kunci Pertumbuhan Ekonomi 2022 Adalah Dongkrak Daya Beli
Selasa, 8 Juni 2021 | 19:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% - 5,8% pada 2022 mendatang. Pertumbuhan ini masuk di dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2022. Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, maka konsumsi rumah tangga harus berada di level 5,1% - 5,3%, konsumsi pemerintah 3,2% - 4,4%, investasi 5,4% - 6,9%, ekspor 4,3% - 6,8% dan impor di kisaran 3,6% - 7,8%.
Wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie OFP mengatakan, untuk mencapai sasaran tersebut, maka pemerintah diminta megoptimalkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi. "Pemerintah agar mengupayakan bahwa program APBN 2022 antara lain untuk meningkatkan daya beli masyarakat," kata Dolfie dalam rapat kerja bersama dengan pemerintah, Selasa (8/6/2021).
Dia mengatakan, Komisi XI juga meminta pemerintah meningkatkan belanja yang berkualitas dan langsung dirasakan sektor produktif. "Belanja yang diarahkan harus untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, meningkatkan produktivitas lapangan usaha rakyat, dan memperkuat daya saing termasuk industri pengolahan," ujarnya.
Untuk meningkatkan investasi, sebagai komponen kedua terbesar penyumbang pertumbuhan ekonomi, pemerintah diminta agar segera mengefektifkan peran lembaga pengelola investasi serta menciptakan iklim yang kondusif.
Terkait kinerja ekspor impor dia berpendapat, program APBN harus melindungi komoditas unggulan khususnya pangan sehingga kebijakan impor tidak mendistorsi produktivitas dan kesejahteraan rakyat di bidang pangan. "Pemerintah juga harus memperkuat industri berorientasi ekspor serta memperkuat industri yang dapat mengganti bahan baku impor," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panja Penerimaan Komisi XI DPRFathan meminta pemerintah untuk mempertimbangkan berbagai indikator secara komperhensif termasuk menganalisis dinamika kebijakan ekonomi yang berkembang di dalam negeri maupun luar negeri. "Angka pertumbuhan 5,2%-5,8% akan sangat berpengaruh terhadap realisasi pendapatan negara di tahun 2022. Dengan realisasi pada triwulan I 2021, dimana pertumbuhan ekonomi minus 0,74%, Panja meminta agar pemerintah mengantisipasi pagar pendapatan negara tahun 2022 dapat terealisasi," tuturnya
Ditinjau dari berbagai sumber pertumbuhannya, kinerja ekonomi tahun 2022 akan ditopang oleh pulihnya konsumsi masyarakat, investasi, dan perdagangan internasional. Meski begitu, ia menilai berbagai faktor masih menjadi ancaman seperti pengendalian pandemi virus corona, potensi pembalikan arus modal ke negara maju akibat perubahan kebijakan moneter AS seiring dengan pemulihan ekonominya yang cepat.
Kemudian keberlanjutan rebalancing economy Tiongkok yang akan dapat mempengaruhi fluktuasi harga komoditas serta memberi dampak pada mitra dagang termasuk Indonesia. Selain itu berbagai permasalahan global seperti proteksionisme, tensi geopolitik dan perubahan iklim juga perlu diwaspadai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




