ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kemperin: Impor 10.000 Oxygen Concentrator Dilakukan Bertahap

Senin, 12 Juli 2021 | 14:38 WIB
H
FH
Penulis: Herman | Editor: FER
Perangkat Oxygen Concentrator
Perangkat Oxygen Concentrator (Beritasatu Photo)

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Industri Kimia Hulu Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemperin), Fridy Juwono, menilai penggunaan oxygen concentrator bisa menjadi alternatif di tengah lonjakan kasus aktif Covid-19, khususnya untuk membantu pasien Covid-19 non-ICU.

Alat tersebut dinilai efisien dalam penanganan pasien karena dapat memproduksi oksigen serta mendistribusikan langsung pada pasien Covid-19 di lokasi perawatan.

Namun, kata Fridy, sejauh ini belum ada pabrik di Indonesia yang memproduksi alat tersebut, sehingga harus diimpor. Karenanya, pemerintah akan mengimpor sekitar 10.000 oxygen concentrator yang akan dilakukan secara bertahap.

"Oxygen concentrator ini bisa menjadi solusi. Tetapi masalahnya, di sini belum ada pabriknya, jadi kita harus impor dulu. Rencananya mau diimpor 10.000 unit, tapi kan ini berproses, mulai dari pemesanan hingga anggaran," kata Fridy Juwono saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (12/3/2021).

ADVERTISEMENT

Fridy menyampaikan, berdasarkan Instruksi Menperin Nomor 1 Tahun 2021, Kementerian Perindustrian juga telah menginstruksikan pelaku industri untuk berkontribusi dalam pemenuhan oksigen bagi penanganan covid-19. Salah satunya dengan mendonasikan oxygen concentrator. Langkah ini juga sudah dimulai, salah satunya oleh PT Indorama Ventures Indonesia dan PT Indorama Synthetic yang mendonasikan sebanyak 600 unit oxygen concentrator kepada pemerintah Indonesia.

"Oxygen concentrator ini banyak permintaan, dan teman-teman dari dunia usaha juga banyak yang akan menyumbang. Mereka juga akan mengimpor, kemudian disalurkan ke rumah-rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang melayani pasien Covid-19. Dengan adanya partisipasi dari dunia usaha, kita harapkan bisa tersedia lebih dari 10.000 unit," kata Fridy.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita juga menyampaikan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kebutuhan oksigen medis meningkat hingga 2.333 ton per hari, sementara kapasitas nasional di angka 1.578 ton hari. Artinya, terdapat defisit sekitar 575 ton per hari.

"Kami mendapatkan tugas mencari sumber-sumber oksigen tambahan, baik dari peningkatan kapasitas produksi maupun impor. Saat ini kami sudah mengamankan suplai sekitar 922 ton oksigen per hari, baik yang didapat dari impor maupun lokal," jelas Menperin.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon