ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Integra Optimistis Penjualan Tembus Rp 4 Triliun

Selasa, 31 Agustus 2021 | 23:45 WIB
AA
FH
Penulis: Amrozi Amenan | Editor: FER
Dirut PT Integra Indocabinet Tbk, Rusli Halim dan Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk saat kunjungan pabrik di Sidoarjo, Rabu (7/8/2019).
Dirut PT Integra Indocabinet Tbk, Rusli Halim dan Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk saat kunjungan pabrik di Sidoarjo, Rabu (7/8/2019). (Beritasatu Photo/Amrozi Amenan)

Surabaya, Beritasatu.com - PT Integra Indocabinet Tbk optimis tahun ini pendapatannya naik 30% dibandingkan dengan tahun lalu, menyusul permintaan furnitur dan building component di Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan cukup signifikan.

Direktur PT Integra Indocabinet Tbk, Wang Sutrisna, mengatakan, AS adalah pasar furnitur terbesar di dunia sekaligus bagi perseroan. Selama ini 91% produk perseroan diserap oleh pasar AS. Sementara belakangan permintaan pasar AS tumbuh cukup signifikan di tengah masa pandemi covid-19 oleh sebab banyak warga AS yang biasa bekerja di pusat kota membeli rumah di pinggiran kota. Pasalnya, selama pandemi mereka bekerja dari rumah.

"Kebutuhan furnitur dan building component di AS pun langsung melonjak. Itu sebabnya kami optimistis tahun ini kinerja perseroan tetap bagus. Pandemi justru membuat demand furnitur dan building component semakin meningkat," kata Wang saat paparan publk perseroan secara virtual, Selasa (31/8/2021).

Selama semester I tahun 2021, pasar ekspor ke AS tumbuh 92% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan produk manufacturing mengalami peningkatan 114%.

ADVERTISEMENT

"Apalagi, sejak adanya perang dagang AS-Tiongkok, banyak mitra bisnis yang mengalihkan demand-nya ke Asia termasuk ke Indonesia," tandas Wang.

Menurut dia, selain pasar ekspor, produk perseroan juga diserap oleh pasar domestik sebesar 8% pasar domestik dari total penjualan. Namun, sampai semester I 2021 pasar domestik masih mengalami kontraksi sekitar 62%. "Karena itu kami masih fokus menggarap pasar eskpor karena demand-nya lagi strong," ujarnya.

Wang menambahkan, industri furnitur Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar menembus pasar AS. Sebab sumber bahan baku berupa kayu di Indonesia sangat melimpah. Namun sejauh ini, peran Indonesia di pasar ekspor AS masih kalah dengan Vietnam dan Malaysia.

"Saat ini Indonesia baru bisa memasok sekitar 5% dari total pasar di sana. Ini tentu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan perseroan. Karena itu, kedepan perseroan akan terus meningkatkan kapasitas produksinya dengan membangun fasilitas baru di Lumajang dengan investasi sekitar 50% dari total capex tahun ini sebesar Rp 130 miliar hingga 140 miliar," tambahnya.

Selain itu, lanjut Wang, perseroan juga berupaya meningkatkan efisiensi dengan memperbesar ekspor produk knock-down. Karena volume yang bisa dikirim bisa lebih banyak dari produk fully assembly. Lalu, untuk menjaga ketepatan waktu distribusi, perseroan juga menjalin hubungan yang baik dengan perusahaan shipping line agar kontainer yang dibutuhkan selalu tersedia.

"Kami juga tetap melakukan diversifikasi pasar. Selain ke AS juga ke Jerman dan Inggris. Namun pasar di Jerman masih jauh dibanding dengan Amerika, atau 5-6 kalinya pasar Jerman," tandasnya.

Wang mengaku optimis target pertumbuhan sekitar 30% dari tahun lalu akan tercapai. Tahun ini penjualan ditargetkan bisa mencapai Rp 3,7 triliun lebih besar dari tahun lalu sebesar Rp 2,95 triliun. Selama semester I 2021 penjualan tercatat Rp 2,1 triliun.

"Kami optimis tahun ini penjualan bisa mencapai Rp 4 triliun dengan laba bersih sekitar 10% hingga 12% dari penjualan," pungkas Wang.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT