15 Bulan Beruntun BI Tahan Suku Bunga, Ini Alasannya
Selasa, 24 Mei 2022 | 15:34 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan mempertahankan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/BI 7DRR) sebesar 3,5% pada Mei 2022. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing tetap 2,75% dan 4,25%. Dengan keputusan ini, maka BI 7DRR telah dipertahankan di level 3,5% selama 15 bulan berturut.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 23 dan 24 Mei 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRR sebesar 3,5 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Selasa (24/5/2022).
Perry mengatakan kebijakan ini diambil sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendorong pertumbuhan ekoomi, di tengah tingginya tekanan eksternal terkait ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina. Selain itu, adanya percepatan normalsiasi kebijakan moneter di negara maju dan berkembang. "Ketegangan geopolitik dan normalisasi moneter di beberapa negara akan berdampak pada pelemahan dunia," ucap Perry.
Baca Juga: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,5%
Dengan risiko ini, ia memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia berisiko tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Bahkan pertumbuhan ekonomi beberapa negara seperti Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Eropa, dan India akan melambat tahun ini jika dibandingkan dengan posisi 2021. "Volume perdagangan dunia diperkirakan lebih rendah sejalan dengan tertahannya perbaikan ekonomi global dan masalah rantai pasok global," terang Perry.
Sementara harga komoditas energi, pangan, dan logam di global masih akan meningkat sehingga memberikan tekanan pada sisi inflasi global. Hal ini memicu percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju termasuk AS dan negara berkembang, alhasil berdampak pada peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca Juga: Harga Emas Turun karena Penguatan Dolar dan Suku Bunga
Sehingga mendorong terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, Perry menilai ekonomi semakin pulih. Hal ini didorong oleh mobilitas masyarakat, keyakinan konsumen, kenaikan penjualan eceran, permintaan masyarakat, dan ekspor. Oleh karena itu, BI tetap memproyeksi ekonomi Indonesia tumbuh berkisar 4,5%-5,3% pada 2022.
"Perbaikan ekonomi domestik berlanjut ditopang peningkatan permintaan domestik dan kinerja ekspor," imbuh Perry.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




