Kelola Biaya Dana, Bank Mandiri Optimistis Jaga NIM 5,4%
Jumat, 16 September 2022 | 05:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memproyeksi margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bisa dijaga di level 5,4% atau bahkan bisa lebih tinggi hingga akhir tahun 2022. Di samping itu, perseroan tetap berupaya mengelola biaya dana (cost of fund/CoF) di rentang moderat yakni 1,2% sampai 1,3%.
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menyampaikan, rasio NIM telah diukur setidaknya bisa mencapai 5,1% sampai dengan 5,4% hingga akhir tahun ini. Sebelumnya, perseroan telah berhasil membukukan NIM sebesar 5,4% di semester I 2022.
Baca Juga: Kredit Bank Mandiri Tumbuh 8,93% di Kuartal I 2022
"Kita meyakini bahwa rate 5,4% dapat kita jaga pada level yang sama, bahkan kita punya keyakinan akan sedikit meningkat dengan apa yang telah dicapai pada semester I-2022 lalu," ucap Sigit pada Public Expose Live Bank Mandiri 2022, Kamis (15/9).
Tapi d isisi lain, dia mengatakan, perlu untuk bank berupaya mengantisipasi hal-hal yang bisa menurunkan NIM, salah satunya yakni mengelola CoF dalam level baik. Apalagi kenaikan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi tantangan yang berimplikasi mengerek CoF perseroan.
Meski begitu, risiko tersebut bisa ditekan selama rasio dana murah (current account saving account/CASA) masih bisa dijaga seperti saat ini di level 75%. Berikut dengan inisiatif menghimpun dana murah melalui aplikasi Livin' dan Kopra dalam beberapa waktu belakangan.
"Tentu kita memproyeksikan ada sedikit kenaikan CoF. Kalau CoF saat ini ada di kisaran 1,2% sampai 1,3%, ke depan kita perkirakan ada kenaikan 10 bps. Ini angka yang sangat minimal dibandingkan kenaikan angka BI Rate yang kita perkirakan sampai akhir tahun sampai dengan 50-100 bps," kata Sigit.
Sigit mengakui bahwa kenaikan BI7DDR sampai akhir tahun berpotensi untuk bank menyesuaikan tingkat bunga kredit (lending rate). Tapi sebelum itu, Bank Mandiri perlu menimbang sejumlah faktor dan tidak seketika meningkatkan suku bunga kreditnya.
Faktor pertama terkait dengan likuiditas. Dengan rasio CASA tadi bisa dipertahankan, maka risiko kenaikan bunga kredit pun bisa ditekan. "Ini bagian dari strategi yang sudah kita lakukan, sehingga CoF bisa terjaga di angka yang rendah dan bisa menjaga NIM di angka yang sehat," kata dia.
Untuk faktor kedua, Sigit menyatakan, perlu untuk Bank Mandiri menilik kondisi usaha debitur. Memandang BI Rate bisa jadi ikut mempengaruhi kemampuan nasabah dalam membayar angsurannya. Sehingga hal ini perlu dipertimbangkan agar nantinya kenaikan suku bunga kredit tidak berdampak lebih jauh pada kualitas aset.
Sementara faktor ketiga alasan Bank Mandiri tidak seketika menyesuaikan tingkat bunga kredit adalah melihat aspek kompetisi. Jika kebanyakan bank-bank lain tidak menaikkan suku bunganya, tentu hal ini akan direspons perusahaan untuk ikut tren industri.
"Kenaikan BI7DDR tidak serta merta akan diikuti di sisi lending rate, sangat tergantung atau mempertimbangkan banyak sekali faktor. Bank Mandiri akan mempertimbangkan sisi yang terbaik secara keseluruhan supaya bisa memberikan return baik, sekaligus terjaga baik serta tumbuh secara sehat," jelas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




