Korban Tewas Kerusuhan Bangladesh 133 Orang, Polisi Tembaki Pendemo yang Menentang Jam Malam
Minggu, 21 Juli 2024 | 05:54 WIB
Dhaka, Beritasatu.com – Korban tewas akibat kerusuhan Bangladesh bertambah sebanyak 133 orang hingga Sabtu (20/7/2024). Polisi dilaporkan menembaki para pengunjuk rasa yang menentang jam malam yang diumumkan pemerintah.
Sejak kemarin tentara Bangladesh telah diturunkan berpatroli di kota-kota untuk meredakan kerusuhan.
Sementara jumlah korban tewas yang mencapai ratusan berdasarkan laporan polisi dan pihak rumah sakit. Kondisi di Bangladesh saat ini menjadi tantangan untuk diatasi oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina setelah 15 tahun berkuasa.
BACA JUGA
Kerusuhan di Bangladesh Tewaskan 105 Orang, Demonstran Serbu Penjara dan Bebaskan Ratusan Napi
Pemerintahan Bangladesh memberlakukan jam malam, dan meminta militer untuk mengerahkan pasukan setelah polisi kembali gagal meredakan kekacauan yang meluas.
"Tentara telah dikerahkan di seluruh negeri untuk mengendalikan situasi hukum dan ketertiban," kata juru bicara angkatan bersenjata Shahadat Hossain.
Lembaga penyiaran swasta Channel 24 melaporkan, jam malam akan tetap berlaku setidaknya hingga pukul 10.00 pagi pada Minggu (21/7/2024).
Jalanan di ibu kota Dhaka menjadi sepi saat fajar. Hanya terlihat tentara dan kendaraan lapis baja berpatroli di kota besar yang berpenduduk 20 juta jiwa itu.
Namun pada sore hari, ribuan orang kembali ke jalan di lingkungan perumahan Rampura. Polisi menembaki kerumunan dan melukai sedikitnya satu orang.
"Terjadi anarki di negara ini. Mereka (polisi) menembaki orang-orang seperti burung," kata pengunjuk rasa Nazrul Islam (52 tahun).
Rumah sakit telah melaporkan peningkatan jumlah kematian akibat tembakan sejak Kamis.
Juru bicara polisi Faruk Hossain menyatakan, pihaknya kewalahan menghadapi ratusan ribu orang yang turun ke jalanan di seluruh kota.
"Setidaknya 150 polisi dirawat di rumah sakit. Sebanyak 150 lainnya mendapat pertolongan pertama," katanya.
Hossain juga menambahkan, ada dua polisi yang tewas dipukuli demonstran. "Para pengunjuk rasa membakar banyak pos polisi. Banyak kantor pemerintah dibakar dan dirusak,” jelasnya,
Staf di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Dhaka mengatakan, dua petugas polisi dan sembilan lainnya tewas pada Sabtu kemarin. Sementara empat orang yang dirawat di perawatan intensif meninggal karena luka-luka mereka.
Seorang juru bicara Students Against Discrimination, kelompok utama yang mengorganisasi protes mengatakan, dua pemimpinnya telah ditangkap sejak Jumat.
Hasina seharusnya meninggalkan negara itu pada hari Minggu untuk lawatan diplomatik yang telah direncanakan. Namun, ia membatalkan rencananya setelah seminggu terjadi peningkatan kekerasan.
"Dia telah membatalkan turnya di Spanyol dan Brasil karena situasi yang ada," kata sekretaris persnya Nayeemul Islam Khan.
Aksi unjuk rasa yang menimbulkan kerusuhan di Bangladesh dipicu seruan mahasiswa untuk diakhirinya sistem kuota yang memberikan lebih dari separuh jabatan pegawai negeri untuk kelompok tertentu, termasuk anak-anak veteran perang pembebasan negara itu saat Pakistan pada 1971.
Pengunjuk rasa menilai, aturan tersebut menguntungkan keluarga yang setia kepada Hasina (76), yang telah memerintah negara itu sejak 2009.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




