Israel Disebut Serang Iran dari Wilayah Udara Irak atas Izin Amerika
Minggu, 27 Oktober 2024 | 08:07 WIB
New York, Beritasatu.com - Delegasi Iran di PBB menuduh Israel mengerahkan jet tempur untuk menyerang negaranya pada Sabtu (26/10/2024) dini hari dari wilayah udara Irak, dengan izin Amerika Serikat (AS).
“Jet tempur Israel meluncurkan rudal dari wilayah udara Irak, sekitar 112 km dari perbatasan Iran, menargetkan lokasi militer dan stasiun radar Iran. Wilayah udara Irak dikendalikan oleh militer AS, jadi Washington tentu saja terlibat dengan Tel Aviv dalam serangan itu.” ujar delegasi tetap Iran untuk PBB di X.
Tentara Israel (IDF) pada Sabtu (26/10/2024) mengerahkan 100 pesawat militer, termasuk jet tempur siluman F-35I untuk meluncurkan serangkaian rudal ke sasaran militer di Iran sebagai respons atas serangan Iran pada awal bulan ini.
Militer Iran mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara terintegrasinya mencegat sejumlah besar rudal jarak jauh Israel dari Irak, dan mencegah IDF memasuki wilayah udaranya. Mereka mencatat bahwa rudal Israel membawa hulu ledak kecil, hanya sekitar seperlima berat hulu ledak rudal balistik Iran.
Teheran mengumumkan kerusakan terbatas, dua tentara tewas, beberapa sistem radar rusak tetapi bisa segera diperbaiki.
Kantor Perdana Menteri Benjamin Nentayahu mengeluarkan pernyataan yang menyangkal pemberitaan di media Israel bahwa IDF awalnya berencana menyerang fasilitas minyak dan gas Iran. Namun Israel mengubah rencana, dengan fokus sepenuhnya pada fasilitas militer setelah mendapat tekanan terus-menerus dari AS.
“Tel Aviv memilih targetnya terlebih dahulu, berdasarkan kepentingan nasional, bukan atas instruksi Washington,” kata kantor PM Israel.
AS belum mengomentari tuduhan keterlibatan dan informasi tentang mengizinkan IDF mengerahkan pesawat tempur dari wilayah udara Irak. Pihak pemerintah di ibu kota Baghdad juga belum berkomentar.
AS sebelumnya mengatakan respons Israel adalah tindakan membela diri, hanya berfokus pada sasaran militer. Serangan itu menghindari daerah permukiman, dan Israel memberi tahu Washington mengenai serangan tersebut.
Presiden AS Joe Biden ingin semua pihak meningkatkan upaya diplomatik, mengurangi ketegangan di Timur Tengah, dan menyerukan Iran untuk tidak menanggapi Israel untuk menghindari eskalasi situasi. “Tampaknya Israel tidak menyerang lokasi apa pun selain sasaran militer,” kata Biden.
"Saya harap ini adalah akhirnya,” ujarnya.
Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat setelah milisi Hamas di Gaza menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Israel kemudian melancarkan serangan untuk menanggapi Hamas. Sementara Hizbullah di Lebanon meningkatkan serangannya terhadap Israel utara untuk menunjukkan dukungan kepada sekutunya di Gaza.
Hizbullah dan Hamas sama-sama merupakan kelompok yang didukung Iran dalam upaya melawan pengaruh Israel di Timur Tengah.
Situasi Timur Tengah semakin memburuk setelah serangkaian peristiwa, termasuk aksi Israel yang membunuh banyak komandan senior dan pemimpin Hamas dan Hizbullah. Iran kemudian meluncurkan hampir 200 rudal balistik ke Israel awal bulan ini, dan IDF melancarkan serangan di Lebanon selatan. Jika Teheran memutuskan untuk membalas dengan keras atas serangan udara tanggal 26 Oktober,
konflik Iran-Israel dapat meningkat secara signifikan, bahkan berubah menjadi perang skala penuh di Timur Tengah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




