Israel Tuduh Iran Gunakan Bom Klaster ke Area Permukiman
Jumat, 20 Juni 2025 | 07:39 WIB
Washington, Beritasatu.com — Militer Israel menuduh Iran menggunakan bom klaster dalam serangan rudal yang diluncurkan pada Kamis (19/6/2025) ke wilayah Israel. Ini merupakan penggunaan bom tandan pertama yang dilaporkan dalam konflik yang telah berlangsung selama sepekan terakhir.
Dalam pernyataan yang dikirim ke Reuters, Kedutaan Besar Israel di Washington menyebutkan angkatan bersenjata Iran menembakkan rudal berisi sub-amunisi klaster ke area permukiman padat penduduk. “Senjata klaster dirancang untuk menyebar ke area luas dan memaksimalkan kerugian pada warga sipil,” tulis Israel.
Kedutaan Israel menegaskan serangan ini dilakukan secara sengaja dan melanggar hukum internasional karena menargetkan pusat-pusat permukiman sipil.
Laporan militer Israel menyebutkan hulu ledak rudal meledak pada ketinggian sekitar 7 km di atas wilayah Israel tengah, melepaskan sekitar 20 sub-amunisi dalam radius 8 km. Salah satu amunisi kecil menghantam sebuah rumah di Kota Azor, menyebabkan kerusakan tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Bom klaster atau bom tandan dikenal kontroversial karena dapat menyebar tanpa terkendali ke area luas. Beberapa submunisi yang tidak meledak saat serangan dapat membahayakan warga sipil dalam jangka panjang, bahkan setelah konflik berakhir.
Militer Israel merilis grafik peringatan publik mengenai potensi bahaya dari sisa persenjataan yang belum meledak.
“Rezim teror berusaha melukai warga sipil dan menggunakan senjata yang menyebar luas untuk memaksimalkan kerusakan,” ujar juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin.
Iran hingga kini belum merespons tudingan tersebut. Misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Iran dan Israel diketahui bukan pihak penandatangan Konvensi Internasional 2008 yang melarang penggunaan, produksi, dan penyimpanan bom klaster. Konvensi tersebut telah ditandatangani oleh 111 negara dan 12 entitas lainnya.
Penggunaan bom klaster juga pernah menjadi kontroversi ketika Amerika Serikat memasok amunisi tersebut ke Ukraina pada 2023 dalam perang melawan invasi Rusia. Ukraina dan Rusia juga sama-sama tidak menandatangani konvensi tersebut, dan keduanya dituduh telah menggunakan bom serupa dalam konflik mereka.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




